» » Berjaya Karena Menekuni Qiyamul Lail

Berjaya Karena Menekuni Qiyamul Lail

Penulis By on Senin, 23 Desember 2013 | No comments

“Hai anak Adam, luangkan waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku menghindarkan kamu dari kemelaratan. Kalau tidak ,Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan kerja dan Aku tidak menghindarkan kamu dari kemelaratan“ (Hadis Qydsi riwayat Attirmizi dan Ibnu Majah).
Sembilan dari sepuluh sahabat yang telah dijamin Nabi SAW masuk surga adalah pedagang. Walaupun demikian yang menonjol dari sembilan sahabat itu bukan aktivitas bisninya, tetapi ibadahnya. Misalnya Usman bin Affan RA, saudagar yang kaya raya itu, siang dan malam masih sempat mengkhatamkan membaca Al Quran masing-masing satu kali.
Tidak lama setelah rombongan hijrah sanpai di Madinah, Rasulullah SAW menugasi Abdurrahman bin Auf, ekonom terkenal kota Mekah, untuk membentuk Tim “Membangun ekonomi Madinah“. Kiat yang mereka lakukan, pertama memperbanyak istighfar kepada Allah, kemudian munajat dikeheningan malam melalui tahajjud, setelah itu baru menerapkan methode-methode ekonomi yang diajarkan Rasulullah SAW.
Sejarah mencatat, hanya dalam waktu beberapa tahun, ekonomi Islam berhasil menyisihkan ekonomi Yahudi yang telah menguasai Madinah selama ratusan tahun. Apa dasar Abdurrahman bin Auf memperbanyak istighfar ?. Allah SWT befirman “Maka Aku berkata kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu. Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun–kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (Nuh (71) : 10-12). Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya dijadikan Allah baginya kelapangan dari tiap-tiap kesusahan dan way out dari tiap-tiap kesempitan dan dianugerahkan rezeki dari jalan yang tidak diduganya“ (HR.Abu Daud, An Nasai, Ibnu Majah dan Al Hakim)
Ketika Umar bin Abdul Aziz dibaiat menjadi kahlifah, maka beliau langsung mengajak rakyatnya “Pertama melajimkan salat diawal waktu, kedua hidup sederhana, ketika istiqamah tahajjud “. Sejarah mencatat hanya dalam waktu dua tahun empat bulan usia pemerintahannya, sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat dan sedekah saking makmurnya. Andai seorang gadis rupawan berjalan dari Mekah ke Syam sendirian ia akan selamat saking amannya. Aneh tapi nyata, ketika siang hari yang banyak menjadi pembicaraan anggota masyarakat adalah mengenai ibadah malam mereka .
Sebelum Umar bin Abdul Aziz wafat ia memanggil 13 orang anaknya dan berpesan “Sesungguhnya aku tidak meninggalkan sedikit harta pun untuk kalian. Hanya Allah Yang Maha Kuasa saya tinggalkan untuk kalian. Kalau kalian taat dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya, niscaya Dia akan memelihara kalian. Tapi kalau kalian durhaka kepada-Nya,maka aku tidak akan menolon kalian untuk bermaksiat dan berbuat durhaka kepada-Nya“. Lalu Umar membaca surah Al A’raf 196 “Sesungguhnya pelindungku ialah yang menurunkan Al Quran dan Dia melindungi orang – orang saleh“.
Masya Allah. Semua anak-anaknya menjadi orang yang saleh dan sukses dalam hidupnya. Disebutkan, salah seorang anaknya, ada yang mampu bersedekah 250 ekor onta.
Al Quran menjelaskan bahwa orang–orang yang selalu menjaga salat malam adalah mereka yang berhak memperoleh kemurahan Allah dan rahmat-Nya. Al Quran juga memberikan pujian kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai bagian dari para hamba Allah yang baik. (Al Furqan (25) : 63-64). Dengan menegakkan kesalehan malam, ucapan pada esok harinya dan berbagai kebijakan kelangsungan hidup lainnya akan didengar karena menyimpan hikmah dan ada bobotnya“ (Simak Al Muzammil (74) : 2-6). Pakar ilmu jiwa modern membuktikan “Barangsiapa ingin memperoleh keinginan yang kuat, ketajaman ucapan ditengah masyarakat, dan kemudian di dalam menghadapi problema, maka hendaklah ia mengerjakan salat tahajjud “.
Athailllah Al Sakandari penulis kitab Al Hikam antara lain pernah mengibaratkan “Orang saleh, yang obsesi hidupnya untuk akhirat, keperluan hidupnya laksana ia dikejar oleh bayang-bayangnya sendiri. Sebaliknya orang yang keinginannya hanya mengejar dunia, hidupnya laksana mengejar bayang-bayangnya sendiri“ Salah satu contoh sederhana, Imam dan Muazin di Masjidil Haram Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, semua keperluan hidupnya dipenuhi oleh kerajaan.***(Ustadz H.Uti Konsen.UM/sulingketapang.blogspot.com)
Keterangan Gambar :  Kegiatan Subuh Keliling di Surau Al-Hidayah Kelurahan Kauman Ketapang Kalimantan Barat,Selasa 24 Desemebr 2013.***(Doc.Ustadz H.Uti Konsen.UM)

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya