» » Lebih Baik Tahajjud Dibanding Menduduki Jabatan

Lebih Baik Tahajjud Dibanding Menduduki Jabatan

Penulis By on Minggu, 15 Desember 2013 | No comments

“Mengapa seorang hamba yang begitu dekat hubungan dengan Rabb-nya tidak begitu bernafsu terhadap jabatan dan kedudukan duniawi ?.” Jawabannya sederhana “Dia adalah seorang hamba yang sudah mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia disisi-Nya sehingga tidak perlu repot-repot lagi mencar –cari kedudukan duniawi. Bagi mereka tidak ada yang lebih indah dan lebih mempesona daripada kedudukan yang mulia dan abadi disisi-Nya“ (Buku Menjemput Kesuksesan Dengan Tahajjud oleh Saefullah Muhammad Satori). Salat Tahajjud memang merupakan anugerah yang berharga. Disamping menyenangkan Allah, ia juga menjamin keselamatan dari malapetaka dan menjadikan kita tenang dan jernih. Saat gelisah salat tahajjud bisa mempercepat datangnya rahmat Allah. Ketika rahmat Allah menyelamatkan kita, kegelisahan akan hilang tanpa bekas.
Hudzaifah berkata “Setiap kali Nabi SAW mengalami kesulitan, Beliau melakukan salat “ (HR.Ahmad dan Abu Daud). Seorang ulama penikmat tahajjud saking ektasinya sampai bertutur , walaupun terdengar amat berlebihan “Di dunia ini tiada waktu yang menyerupai kenikmatan para penghuni surga kecuali kenikmatan yang didapat oleh orang – orang yang hatinya terbujuk oleh malam karena nikmat dan manisnya bermunajat “. Ibnu Mas’ud RA menyebutkan “Dalam kitab Taurat tertulis, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kepada orang-orang yang lambungnya jauh dari pembaringan (untuk salat malam), apa yang tidak pernah disaksikan oleh mata, didengar oleh telinga, dan tak terbetik dalam hati manusia, serta tak diketahui oleh malaikat yang dekat dengan Allah dan tidak pula oleh Nabi yang diutus“ (HR.Al Hakim). Dalam surah Al Isra’ 79 menggambarkan betapa Allah SWT telah memberikan kedudukan yang istimewa bagi orang yang melaksanakan salat tahajjud, karena tahajjud adalah salah satu salat sunnah yang sangat dianjurkan. Muhammad bin Shalil Ash-Sha’ari berkata “Keagungan yang akan didapatkan oleh orang yang bangun malam untuk tahajjud bahwa Allah dan malaikat akan membanggakannya“.
Jibril AS berkata kepada Rasulullah SAW “Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin adalah karena dia melakukan qiyamul lail, sedangkan kehormatannya karena ia tidak membutuhkan ( menggantungkan ) pada orang lai “. Diantara kenikmatan yang diberikaan Allah kepada Al Mutahhajid adalah kelapangan dada, ketenangan jiwa dan kebahagiaan sejati sepanjang hari yang ia bangun di malamnya, untuk qiyamul lail. Ternyata di balik rahasia penikmat tahajjud, tersimpan mutiara berharga yang sulit untuk diperoleh dalam ibadah sunnah lainnya, yaitu kelezatan bermunajat kepada Allah. Mereka telah hanyut dalam buaian kasih sayang Allah yang tiada taranya. Hatinya terasa lapang, sakitnya terasa terobati, segala kesengsaraannya hilang begitu saja tanpa bekas. Bahkan kebahagiaan dunia baginya begitu ringan dibanding kenikmatan yang mereka rasakan. Terkait ayat 69 Al Ankabut Imam Sirri Siqthy menuturkan“ Berbagai keuntungan dan manfaat akan datang dikegelapan malam “Tidak sedikit seorang ulama yang buntu pikirannya untuk memecahkan suatu masalah kemudian ia bermunajat kepada Allah SWT., nikmat berupa tahajjud ditengah malam, sehingga Allah memberinya futh dan membukakan untuknya masalah itu“.
Dengan tingkat keimanan yang tinggi, Al Mutahhajid akan mendapat beberapa keistimewaan antara lain, khusnul khatimah. Karena mereka orang–orang yang mulia, malaikat akan mencabut nyawanya dengan memberi salam lebih dahulu. Kemudian barulah di ambil nyawanya tanpa rasa sakit “Sesungguhnya orang – orang yang berkata, ‘ Tuhan kami adalah Allah ‘ dan mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat – malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “’Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu“ (Fushilat (41) : 30).

Kedekatan dengan Allah pada malam hari membuat para sahabat rindu akan datangnya malam, karena ibadah pada waktu itu terasa sangat nikmat. Sebagian dari kaum Arief mengatakan “Di dunia ini tiak ada sesuatu yang menyerupai kenikmatan surga kecuali yang didapatkan oleh ahli zikir di dalam hati mereka di malam hari, yaitu manisnya bermunajat kepada Allah“. Dhmrah Al Kanani bercerita tentang Ali bin Abi Thalib KW kepada Muawiyah bin Abi Sufyan “Ia menjauhi dunia beserta gemerlapnya. Ia merindukan malam dan kegelapannya“.***(Ustadz H.Uti Konsen.UM/sulingketapang.blogspot.com)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya