PERHATIAN terhadap tahajjud, telah menjadi trade mark alias simbol utama dari kehidupan para ulama as-salafus ash–shaleh. Mereka saling menasehati untuk melaksanakan tahajjud, untuk menyambung tali persaudaraan dalam setiap kondisi, dan menebarkan salam. Setiap kali disebutkan orang saleh, selalu saja terbayang kegigihan dan keuletan dalam menjalankan ibadah malam atau tahajjud. Ulama kharismatik kota Basrah dulu, Al Hasan Al Basri mengakui “Saya tidak menemukan sesuatu apapun dari ibadah yang lebih nikmat dibandingkan salat ditengah keheningan malam“. Kemudian beliau membaca firman Allah “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam “ (Adz Dzariyat (51) : 17). Yakni mereka sedikit sekali tidur. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah“ (Azd Dzariyat 17) . Tsabit menceritakan pengalamannya “Selama dua puluh tahu aku bersabar menghadapi betapa susahnya mengerjakan tahajjud, namun dua puluh tahun berikutnya aku sangat menikmatinya paling nikmat“.
“Orang yang sudah merasakan nikmatnya tahajjud akan bersungguh – sungguh melakukannya setiap ada kesempatan dan akan merasa menyesal bila ada satu malam yang terlewatkan. Satu malam yang terlewatkan tanpa tahajjud akan mereka “ganti“ berupa kegiatan yang bermakna pada kesempatan berikutnya. Tahajjud merupakan bentuk ketaatan yang paling utama, ibadah yang paling bermanfaat dan bentuk pendekatan diri kepada Allah yang paling mulia. Ia menjadi penyebab paling pokok untuk meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat “ (Buku Mukjizat Salat Malam oleh Yusuf Khoththor Muhammad). Para salafus saleh senantiasa menganjurkan agar setiap muslim berpacu dalam beramal saleh di tengah keheningan malam. Diantara mereka bertutur “Di setiap sahur Allah memperhatikan hati setiap orang yang terjaga pada waktu itu. Kemudian Allah SWT menuangkan cahaya kedalam hati orang tersebut, hingga kemudian terpancar segala kebaikan dari hatinya. Jadi orang yang senantiasa bangun malam akan selalu berada dalam petunjuk dan bimbingan Allah, sehingga setiap derap langkahnya bisa mendatangkan manfaat bagi orang lai“ Rasulullah SAW bersabda “Sebaik–baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi oran lain“.
Diantara ciri orang yang bertaqwa “Setiap kali mereka ingin tidur dan berbaring, rindu berduaan dengan Allah SWT, sehingga melarang mereka tidur“. Begitulah Allah menyifati mereka dengan firman-Nya “ . . lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka dan mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap, dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka“ (As-Sajdah 16). Rasulullah SAW saking rindunya dengan tahajjud bila disiang hari disebut malam, kedua bola matanya berkaca – kaca, seraya mulutnya langsung berucap “Tatajafaa junubuhum . . “Simak pula komentar Ibnul Munkadir “ Tidak ada yang tersisa dari kenikmatan dunia ini kecuali hanya tiga hal, yaitu salat malam, bertemu dengan saudara seiman dan mengerjakan salat dengan berjamaa “.
Diantara salafus saleh berkata “Andaikata raja-raja mengetahui apa yang kita rasakan yaitu ketentraman batin ketika tahajjud, niscaya mereka akan menebas leher kita dengan pedangnya“. Abu Sulaiman bertutur “Ahli Malam (Al Mutahhajjid) pada malam hari, mereka lebih merasakan nikmat daripada tukang hura – hura dalam pesta mereka. Kalau bukan karena waktu malam, aku tidak suka tinggal di dunia ini“. Selanjutnya ia berpesan, “Sambutlah waktu fajar dengan sebaik-baiknya. Sebab pada saat itu ribuan kebaikan turun ke bumi“. Umar bin Khattab RA, khalifah kedua memberi nasehat kepada para sahabat “Jadikanlah malammu rindu kepada Tuhan, sepi dari pandangan, ambillah kesempatan pada malam itu, jadikanlah ia jalan dan persiapan untuk hari qiyamah, yang padanya sulit sekali mencari jalan“. Ujar Yahya bin Mua’dz “Tidak pernah kami mendapati dalam keutamaan yang lebih utama dari pada salat malam. Tidak ada amalan yang lebih banyak mewariskan kebaikan seperti yang diwariskan salat malam. Dengan salat malam mereka menemukan hati mereka, menghapus dosa–dosa dan menempuh perjalanan yang menuju kepada alam gai“ (Ruhbanul Lail)
Orang yang melakukan salat malam dengan khusyuk dan tenang akan merasakan nikmatnya iman. Dengan nikmat iman, ia akan melakukan semua kewajiban dengan ringan. Ketika ia susah merasa ringan dalam melaksanakan semua kewajiban, berarti ia telah mencapi ketenangan yang hakiki “Dialah yang telah menurunkan ke dalam hati orang–orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada“ (Al Fath (48) : 4).***(Ustadz H.Uti Konsen.UM/sulingketapang.blogspot.com)

