Rasul SAW bersabda “Andaikan kamu kehilangan segala-galanya, harta tidak punya, rumah tidak ada, penghormatan tidak ada ,hidup sakit-sakitan ,namun kamu mendapatkan Allah, kamu memiliki segala-galanya. Sebaliknya jika kamu mendapatkan segala yang kamu inginkan dari kehidupan dunia ini, namun kamu tidak mendapatkan Allah, maka kamu kehilangan segala-galanya“.
Seorang lelaki menemui Karaz bin Wabarah seorang tabi’in yang tengah murung. Melihat itu, si Fulan tersebut merasa kasihan dan bertanya “Apa gerangan yang membuatmu memangis ?. Apakah engkau sakit ?“. “Lebih dahsyat dari itu “ jawabnya. “Apakah kamu mendengar salah seorang keluargamu meninggal ?“., tanya Fulan. “Lebih dahsyat dari itu“, kilahnya. “Apakah kamu kehilangan harta barangkali“ , cecar si Fulan. Lagi-lagi ia menjawab “Lebih dahsyat lagi“. Setelah sejenak merenung, dengan rasa heran si Fulan bertanya “Lalu, apa yang lebih dahsyat dari semua itu ?“. Tabi’in itu berkata “Tadi malam aku tidak mengerjakan salat malam. Ini semua akibat dosa yang telah kuperbuat. Sebab kebaikan selalu mengajak kepada kebaikaan, dan kejelekan mendorong pada kejelekan. Dan yang sedikit dari tiap-tiap kebaikan dan kejelekan akan menyeret pada yang banyak“.
Mua’dz bin Jabal RA menangis tersedu saat kematian hendak menghampirinya. Dia berkata “Aku menangis karena akan berpisah dengan rasa dahaga di musim panas menyengat karena puasa, salat tahajjud di malam-malam musim dingin, dan duduk tanpa alas bersama para ulama di halaqah zikir“
Yazid ar Riqasyi, sedih ketika menjelang kematiannya. Ia berkata “Aku sedih karena kehilangan kesempatan untuk melakukan qiyamul lail dan puasa di siang hari“.
Seorang ulama menangis ketika sedang sakit dan berkata “Aku menangis saat orang berpuasa, sementara aku tidak puasa bersama mereka, orang melakukan salat sedang aku tidak salat bersama mereka, dan orang berzikir, sedangkan aku tidak hadir bersama mereka“.
Abu Ja’far Al Baqal menuturkan “Pada suatu malam aku masuk ke rumah Ahmad bin Yahya dan mendapatinya sedang menangis tersedu – sedu, terlihat seperti tidak bisa mengendalikan emosinya. Lalu aku berkata kepadanya ‘ Caeritakan kepadaku tentang keadaanmu !’Dia terlihat ingin menyembunyikan sesuatu dariku, tetapi aku tidak membiarkannya. Dia pun berkata kepadaku ‘ Tadi malam aku telah kehilangan bagianku. Aku tidak berpikir apa – apa, kecuali ini semua terjadi karena dosa yang telah kuperbuat. Akibatnya aku diganjar dengan tidak mengerjakan salat malam’. Dia pun mulai menangis lagi, sehingga aku sangat ingin meringankan bebannya. Lalu aku berkata kepadanya’ Betapa mengagumkan keadaanmu. Engkau tidak ridha dari Allah akan kondisi tidur yang Dia berikan kepadamu, sehingga engkau pun duduk sambil menangis‘. Maka, dia pun berkata ‘Biarkanlah diriku, wahai Abu Ja’far. Ini semua terjadi karena dosa yang aku kerjakan’. Dia pun kembali larut dalam kesedihannya, dan ketika aku melihatnya tidak mau menerima diriku, aku pun berpaling dan meninggalkannya“.
Makhlad bin Husain bercerita “Tidaklah aku terbangun pada malam hari kecuali aku mendapati Ibrahim bin Adham sedang berzikir kepada Allah dan melaksanakan salat. Aku pun meratapi kondisiku yang sangat lemah iman dan tidak pernah mengerjakan salat malam. Aku benar –benar tersindir dengan ayat Al Quran yang menyatakan “Itulah keutamaan Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki“.
Sudah puluhan tahun Abu Yazid al Basthami melakukan ibadah ritual kepada Allah, namun ia belum merasakan lezatnya beribadah sebagaimana telah diceritakan dan dirasakan oleh para pendahulunya. Setelah diteliti melewati ibunya, ternyata sang Ibu pernah termakan secuil bubur susu yang menempel di bibir panci, tanpa izin pemiliknya. Setelah sang ibu meminta kehalalannya, maka Abu Yazid Al Basthami langsung merasakan nikmatnya beribadah.
Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Al Darani “Kalau orang yang tidak pernah menangis pada sisa umurnya, kecuali hanya karena ia tidak mendapatkan kenikmatan dalam beribadah pada masa-masa yang lalu. Dalam kondisi ini, sepantasnya ia menangisi hal tersebut hingga ia meninggal dunia“.***(Ustadz H.Uti Konsen.UM)
>Keterangan Gambar : 1. Ustadz H.Uti Konsen.UM. 2. Jamaah Suling di Masjid Istiqamatuddin Desa Padang sedang mendengarkan Tausiyah dan Selesai Tausiyah sarapan bersama,Minggu (29/12/2013).***(Doc.Ustadz H.Uti Konsen.UM)



