» » » » Kehidupan Baru Yang Sangat Berbeda Dan Bulan Madu Yang Cepat Berakhir

Kehidupan Baru Yang Sangat Berbeda Dan Bulan Madu Yang Cepat Berakhir

Penulis By on Senin, 17 Maret 2014 | No comments

KETIKA Gus Dur dan Ibu Megawati menjadi presiden, saya sudah menjadi menteri senior, dan hubungan tugas saya relatif dekat dengan kedua Presiden itu. Makusd saya, saya sudah mengerti apa saja tugas dan kewajiban seorang presiden. Termasuk keseharian seperti apa pula yang dijalaninya. Tetapi, setelah menjadi Presiden sendiri, terus terang banyak yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Kehidupan seorang presiden benar-benar berbeda dengan kehidupan-kehidupan sebelumnya. 

Yang ingin saya ceritakan di bawah ini adalah apa saja yang saya katakan "tidak akan dijumpai di kehidupan yang lain" itu. Maksud saya adalah kehidupan yang sungguh berbeda. 

Hal pertama yang segera saya dan istri rasakan adalah dibatasinya sejumlah kebebasan dan sebelumnya saya jalankan.  Misalnya, dulu, saya bisa berpergian kapan pun dan ke manapun. Sebelumnya, kami bisa makan di manapun sesuai dengan makanan kesukaan kami, entah di warung ataupun restoran. Sebelumnya, saya bisa bertemu teman dan menerima tamu-tamu, kapan saja dan di mana saja. Sebelumnya, tidak pernah ada protokol yang mengatur segala kegiatan resmi saya. Setelah menjadi Presiden, kehidupan sehari-hari saya memang benar-benar telah berubah. Saya merasa kehilangan suasana dan juga gaya kehidupan yang tidak serba diatur dan dibatasi. Kehidupan yang lebih rileks.

Awalnya, terhadap "kehidupan baru" itu tentu saya dan istri merasa tidak nyaman. Saya merasa terlalu diatur dan dibatasi. Tetapi, setelah saya mengerti bahwa semuanya itu berkaitan dengan aspek keamanan dan keselamatan, saya pun bisa menerimanya. Pasukan pengamanan Presiden dan Protokol Kepresidenan memperlakukan saya seperti itu tujuannya untuk melindungi saya, dan semua itu juga merupankan tugas dan kewajiban Paspampres yang diamanatkan oleh undang-undang.

Menyangkut pengaturan dan pembatasan  ini banyak pihak yang salah mengerti. Mereka kerap berkomentar yang negatif, bahkan tidak sedikit yang menyampaikan ketidaksenangannya kepada saya melalui SMS.

"Setelah jadi presiden, SBY berubah. Dulu kita bisa bertemu kapan saja. Mau siang, mau malam. Sekarang repot, karena harus memberitahu staf pribadi atau ajudan Presiden," komentar sejumlah kawan.

"Sebelum jadi presiden kita bisa amat dekat dan bebas bersalaman. Kita kan pendukung Pak SBY. Sekarang kelihatan kalau suka menghalang-halangi. Untung SBY masih mau juga. Tetapi enggak semudah dulu," ucap yang lain. 

"Saya kesal, karena saya ini ingin mengajukan proposal kepada Presiden. Kan wajar kalau kita minta bantuan sama SBY. Saya ingin SBY membaca langsung berkas proposal saya itu. Tapi yang menerima selalu staf pribadinya. Alasannya untuk keamanan. Memangnya kita teroris, mau mengirim bom surat kepada SBY," ucap yang lain pula. 

"Saya ini termasuk fans Pak SBY. Tetapi kemarin saya kecewa waktu saya tawari mencicipi makanan yang saya perkenankan, kelihatannya SBY ragu-ragu. Emangnya saya mau meracuni Presiden sendiri. Enggaklah," pernah sampai ke telinga saya ucapan seperti itu.

Komentar, kritik, dan kesalahpengertian sejumlah kalangan itu sesungguhnya amat saya pahami.

Saya sendiri dan istri sering protes kepada Paspampres. Sebenarnya saya tidak suka kalau pengaman itu terlalu ketat. Sebagaimana sebelum menjadi Presiden dulu, termasuk dalam masa kampanye pemilu, saya ingin tetap dekat dengan rakyat. Bukan hanya dekat di hati, dalam arti terus memikirkan nasib dan masa depannya, tetapi juga dekat secara fisik. Itulah sebabnya, jika pengaman untuk saya terasa berlebihan biasanya saya langsung menegur, sehingga akhirnya saya bisa menyalami rakyat dengan lebih akrab lagi. 

Sebenarnya bagi para ADC ataupun staf pribadi mengetahui bahwa saya ini tidak suka, dan bahkan melarang untuk menutup jalan ketika konvoi rombongan saya lewat. Saya kira tidak banyak di dunia ini, bahkan di tanah air sendiri, seorang presiden yang mobilnya sering harus ikut "macet" karena memang jalan tidak ditutup. Oleh karena itu, saya prihatin jika mendengar omelan di media sosial, katanya jalan macet karena rombongan SBY lewat . Padahal, saya tidak kemana-mana. Saya ada di kantor, atau di Cikeas karena hari libur.

Beberapa kali memang jalan mesti setengah ditutup. Tetapi, itu bisa dihitung dengan jari. Saya masih ingat, misalnya, hal itu dilakukan ketika saya sedang "dibuntuti" oleh kelompok teroris di sekitar Kota Bandung. Oleh karena itu, baik ditempat saya bermalam, maupun di beberapa rute jalan yang saya lalui, terasa lebih ketat pengamannya. Saya bisa memahami, karena memang perkiraan ancaman terhadap keselamatan saya waktu itu sedang tinggi.

Mayor Jenderal Doni Monardo, Komandan Paspampres ketika buku ini ditulis, dan juga para Danpaspampres sebelumnya sangat profesional. Di satu sisi pengamanan presiden memang tidak ada toleransi apa pun untuk gagal (zero tolerance). Tetapi, di sisi lain mereka juga memahami bahwa rakyat ingin menyapa dan dekat dengan Presidennya. Oleh karena itu, meskipun harus tegas saya amati mereka tetap punya hati.

Untuk melengkapi cerita tentang penutupan jalan ini, saya suka memilih waktu-waktu yang lebih sepi ketika melakukan perpindahan tempat. Misalnya, perjalanan saya dari Cikeas ke Istana, atau sebaliknya. Untuk diketahui, selama lebih dari sembilan tahun ini pada prisipnya saya tingal di Istana. Dengan tinggal di Istana, maka pengamanan menjadi lebih mudah, fasilitas kantor bisa saya gunakan secara opimal, juga dapat mengurangi mondar-mandir saya dari rumah pribadi ke kantor. Biasanya setiap akhir pekan saya berada di Cikeas. Atau jika ada kegiatan partai dan kegiatan lain yang tidak tepat saya lakukan di Istana, karena itu fasilitas negara, saya juga pulang ke Cikeas. Nah, untuk tidak terlalu mengganggu masyarkat pengguna jalan, saya sering berangkat dari Cikeas subuh dini hari. Setelah shalat, saya langsung berangkat. Jalanan masih sepi dan sama sekali tidak mengganggu lalu lintas. Sebaliknya dari Istana saya sering pulang tengah malam untuk tujuan yang sama. Dan jika terpaksa harus meninggalkan Cikeas lebih siang, saya pilih jam-jam tertentu yang lalu lintasnya tidak terlalu padat. Biasanya pukul delapan atau setengah delapan yang paling aman.

Setelah merayakan Idul Fitri tahun 1434 Hijriyah, atau 2013 Masehi yang lalu, ada dua hari libur. Yaitu hari Sabtu dan Minggu, tanggal 10 dan 11 Agustus 2013. Saya berencana untuk pergi ke Istana Cipanas. Disamping bisa sedikit rileks, saya juga bermaksud untuk menuntaskan draft dua pidato penting ~pidato kenegaraan dan pidato RAPBN 2014 beserta Nota Keuangannya. Kedua pidato itu akan saya sampaikan pada Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tanggal 16 Agustus 2013. Saya tidak pernah menyerahkan begitu saja naskah kedua pidato penting itu kepada para menteri atau Staf Khusus Presiden. Saya yang menentukan desain, konten, dan elemen utama yang harus ada. Bahkan, di akhir proses penyusunan pidato itu, saya juga ikut memberikan sentuhan gaya bahasa ataupun sisi detail yang lain. 

Yang ingin saya ceritakan sebenarnya bukan soal pembuatan pidato itu sendiri. Tetapi, kapan dan bagaimana saya harus berangkat dari Jakarta menuju ke Cipanas tersebut. Semula saya ingin berangkat pada Jumat sore, setelah paginya sungkeman kepada Ibunda Siti Habibah dan Ibunda Sarwo Edhie Wibowo. Tetapi, saya melihat sendiri betapa padatnya iring-iringan mobil ke arah bogor, dan saya yakini juga yang ke arah puncak. Saya segera meminta ADC saya, Kombes Imam Sugianto, untuk menanyakan kepada satuan Polri yang mengatur lalu lintas ke arah Puncak tersebut. 

"Imam, tolong tanyakan situasinya seperti apa. Saya tidak ingin jalan ditutup karena saya akan lewat. Kasihan rakyat. Nanti tambah macet lagi. Jam berapa yang paling baik. Bagaimana kalau saya berangkat subuh saja?"

Istri yang duduk disamping saya juga bicara."Pak Imam, bisa ditanyakan apakah rute Cileungsi - Cianjur - Cipanas tidak seramai kalau lewat Cisarua. Siapa tahu kita bisa lewat sana?"

Apa hasil koordinasi Kombes Imam dengan koleganya yang mengatur lalu lintas lebaran itu? Dijawab, kedua rute itu padat. Bahkan padat sekali. Mereka juga menyarankan akan lebih baik kalau saya bisa berangkat subuh dini hari. 

Akhirnya, memang saya berangkat dari Cikeas ke Cipanas waktu subuh. Alhamdulillah lancar. Salah satu juru foto Presiden, Anung Anindito, yang menjejaki rute Cianjur dan berangkat hari Jumat sore terjebak macet yang luar biasa. Dari Jakarta ke Cianjur memakan waktu sekitar dua setengah jam. Dari Cianjur ke Cipanas sekitar tiga jam. Sangat tidak biasa.

Kehidupan presiden yang begitu berbeda juga saya rasakan betapa boleh dikata tidak ada yang bersifat pribadi. Seperti tidak ada lagi privileges bagi seorang presiden dan keluarganya. Sepertinya 24 jam kami disorot dan "diburu" oleh pers dan publik. Ada saja. Meskipun pers dan publik tidak selalu negatif karena mereka hanya ingin tahu apa yang dilakukan oleh pemimpin mereka beserta keluarganya, tetapi tentu jika berlebihan terasa kurang nyaman pula. Tak pelak situasi ini, dengan kehidupan pers dan politik di negeri ini yang sering cynical, kehidupan keluarga saya sering menjadi sorotan dan bahan komentar yang miring. Anak-anak saya, terkadang juga anak menantu saya, sering menyampaikan isi hatinya kepada saya. Unek-unek tentang perlakuan yang dianggap kurang adil terhadap mereka. 

"Pa, mengapa keluarga kita tidak pernah berhenti disorot dan dipergunjingkan. Yang tidak ada pun menjadi ada. Hal yang sama yang dilakukan oleh banyak orang tidak ditanggapi," begitu kita komentarnya tidak habis-habis. "Karena kalian anak presiden. Begitu hukumnya. Semua harus siap," jawab saya singkat

Yang jelas tidak ada hari yang sama bagi seorang presiden. Setiap hari selalu ada yang baru. Setiap hari boleh dikata selalu ada berita dan laporan yang berpasangan. Yang baik dan yang buruk. Setiap saya membaca SMS selalu ada yang puas dan ada pula yang tidak puas. Meskipun, tentu ada kegiatan yang tergolong reguler dan rutin. Rutin kegiatannya, tetapi isu yang dihadapi dan ditangani selalu berbeda dan terus berkembang. 

Untuk diketahui, ada satu titik penting yang dialami oleh seorang presiden diawal pelaksanaan tugasnya. Titik atau momen itu adalah yang disebut dengan masa "bulan madu", dan kemudian masa setelah bulan madu itu usai. Saya ingin berbagi cerita tentang hal ini, karena pada periode ini muncul sejumlah perilaku sosial dan politik yang tidak biasanya. Bukan berarti anomali, tetapi memang tidak biasa. Jika tidak dipahami, baik sang presiden maupun masyarakat bisa memiliki persepsi yang keliru. 

Segera setelah seorang presiden terpilih diambil sumpahnya, dan kemudian mulai memimpin pada minggu-minggu pertama, periode itulah yang dinamakan masa bulan madu. Suasana euforia kemenangan masih mewarnai medan perpolitikan. Dukungan masyarakat berada pada masa puncaknya. Lembaga survei biasanya juga melakukan polling, dan hampir pasti hasilnya baik. Artinya, dukungan untuk presiden yang baru saja mengawali tugasnya itu hampir pasti jauh di atas perolehannya dalam pemilihan presiden yang belum lama berlangsung. Sebagai contoh, pada Pilpres tahun 2004, perolehan saya sekitar 61 persen, pada bulan madu dukungan itu meningkat menjadi 80 persen. Demikian pula pascapemilu tahun 2009, dari dukungan yang saya peroleh sekitar 62 persen, pada masa bulan madu naik secara signifikan menjadi 85 persen. 

Sesudah itu, tiga sampai empat bulan kemudian, biasanya kembali dilaksanakan polling, dan di situ dukungan publik kepada presiden biasanya menurun dan bisa mendekati angka perolehan dalam pemilihan presiden. Untuk saya, setelah bulan madu itu berakhir, pada awal tahun 2005 popularitas saya kembali ke angka 65 persen, dan awal tahun 2010 juga pada angka 65 persen. Di sinilah biasanya langsung dibuat kesimpulan bahwa popularitas presiden jatuh atau meluncur tajam. Padahal, jika dibandingkan dengan perolehan dalam pilpres masih lebih tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan base line popularitas saya sejak tahun 2004, yang biasanya berada pada angka sekitar 50-60 persen.

Memang bukan hanya menyangkut polling popularitas dan dukungan publik, tetapi situasi politik memang berubah. Pers menjadi kritis kepada presiden baru. Demikian pula masyarakat luas. Mulai terdengar kritik dan ketidakpuasan dari sejumlah kalangan. Program 100 hari pemerintahan baru juga dianggap salah, bahkan sering pula dinyatakan gagal. Kegagalan itu banyak yang mengaitkan dengan janji-janji kampanye yang tidak dicapai pada 100 hari masa pemerintahan yang baru itu. Tentu saja tidak dicapai. Mana mungkin masa kerja pemerintahan yang akan berlangsung selama lima tahun sudah dihakimi sebagai gagal hanya dalam waktu 100 hari? Tetapi, itulah suasana politik yang terjadi pasca masa bulan madu. 

Saya masih ingat menjelang berakhirnya program 100 hari setelah saya dipilih kembali pada Pemilu tahun 2009, wartawan RCTI mewawancarai saya di Istana Cipanas. Wartawan muda, Putra Nababan, menanyakan kepada saya kurang lebih sebagai berikut:

"Pak Presiden, ada yang menilai program 100 hari pemerintah tidak mencapai sasaran. Juga dianggap tidak sesuai dengan janji-janji kampanye yang lalu. Apa komentar Pak SBY?"

"Benar jika belum menjawab atau tidak sesuai dengan tema dan janji kampanye saya. Karena memang baru 100 hari dari lima tahun. Kalau mau menilai nanti pada akhir tahun 2014." demikian jawab saya. 

Untuk tahun 2009 saya sudah lebih siap dan lebih mengerti mengapa terjadi perubahan situasi politik yang relatif drastis dibandingkan dengan masa bulan madu. Tetapi, tidak demikian pada masa pascapemilu 2004. Saya baru menyadari bahwa "perlawanan" dari mereka yang tidak berhasil dalam pemilihan presiden sangat tampak. Demikian juga mereka-mereka yang tidak saya ajak dalam pemerintahan, utamanya kabinet, juga mulai menunjukkan sikap dan gerakan politik yang mengekspresikan ketidaksenangannya kepada saya.

Nasib dan kehidupan yang berbeda bagi seorang presiden seperti itu juga bukan khas Indonesia. Ternyata di negara lain juga sama. Pada media 2013 lalu saya menyaksikan tayangan sejumlah televisi internasional yang meliput unjuk rasa besar di Paris, Prancis, menyambut setahun pemerintahan Presiden Hollande. Digambarkan dalam tayangan televisi itu bahwa besarnya masa yang melakukan protes kepada Presiden Prancis itu sama jumlahnya dengan masa yang merayakan kemenangan Presiden Hollande setahun sebelumnya. 

Saya juga menyimak apa yang dikatakan oleh Presiden Bill Clinton sebagai berikut:

"Saya menyukai jabatan saya sebagai presiden. Hari-hari yang buruk menjadi bagian dari itu. Saya mencalonkan diri sebagai presiden bukan untuk mencari kesenangan. Saya ingin mendapatkan kesempatan untuk melakukan perubahan bagi negara saya, sehingga jika hari-hari yang buruk itu datang, semua itu merupakan bagian dari kehidupan saya. Semuanya sungguh menyenangkan dan penuh pembelajaran. Semua membuat Anda tetap menjalankan tugas yang harus diemban".

Kalimat di atas saya kutip dari Peter's Quotation: Ideas For Our Time, tulisan Dr. Laurence J. Peter, yang kemudian saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia. Presiden Clinton menjabat selama dua periode, dan kini masih aktif berkontribusi kepada masyarakat dunia. Perhatiannya adalah pada bidang kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat sedunia. Pertama kali saya bertemu Presiden Clinton ketika bersama Presiden Bush (senior) berkunjung ke Aceh, ketika Aceh mengalami musibah tsunami. Saya bertemu keduanya di Bandar Udara Polonia Medan. Kemudian, tahun 2007 saya menemui Bill Clinton di kantornya Clinton Foundation, New York. Sedangkan yang ketigakalinya beliau menemui saya di Davos, Swiss, tanggal 27 Januari 2011, untuk membicarakan penanganan pascabencana di Haiti. 

Ketika saya tengah bertafakur di malam yang hening, di tengah himpitan persoalan yang datang silih berganti, saya meski bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Allah SWT, karena saya masih diberi kekuatan dan semangat untuk menjalankan tugas saya sebagai Presiden. Bersyukur karena dapat melalui bertahun-tahun yang berat dan tidak mudah. Barangkali yang membuat saya tetap bertahan selama ini, selama lebih dari sembilan tahun ini, karena saya telah mempersiapkan hati dan pikiran saya untuk menghadapi kritik, kecamann, dan berbagai perlawanan kepada saya. Saya bertekad untuk menjadikan semuanya itu sebagai bagian dari hari-hari yang panjang pengabdian saya. Bagian dari romantika dan dinamika kehidupan yang harus saya jalani. ***) Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono 2014,Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 104 - 111.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya