Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Kalau saya ditanya oleh rakyat apa yang paling mengganggu hati dan pikiran saya, jawaban saya jelas dan pasti: Fitnah. Jawaban itu saya yakini yang juga ada dalam diri keluarga saya, istri, dan anak-anak. Saya yakini pula juga ada dalam diri setiap insan yang pernah apalagi sering mendapatkan fitnah.
Ajaran agama mana pun pasti melarang umatnya untuk mengeluarkan fitnah. Dalam Islam bahkan urusan fitnah ini dijadikan materi ajaran yang amat penting. Tidak sedikit firman Allah dan hadis Rasulullah yang berkaitan dengan tindakan yang amat tidak terpuji ini. Kita juga sering mendengar kata-kata bahwa "fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan".
Sebenarnya, saya telah mempersiapkan hati saya untuk menghadapi kritik, hujatan, dan serangan-serangan, karena memang seperti itulah takdir seorang pemimpin. Saya juga ingin menjadi manusia yang rasional, dalam arti jika ada faktanya, silakan siapa pun untuk menanggapi dan mengkritisi apa yang saya lakukan. Yang saya maksudkan kritik dan tanggapan itu memang berdasarkan fakta yang ada. Apakah itu perkataan saya, keputusan saya, kebijakan saya, atau tindakan saya. Artinya memang ada yang terjadi, ada peristiwanya, atau singkatnya hal itu real. Bukan sesuatu yang sungguh tidak ada (non-existent), atau ya fitnah tadi.
Kemudian jika saya ditanya lagi berapa banyak fitnah yang saya terima, jawaban saya juga cepat dan mudah: saya sudah lupa. Banyak. Artinya, jumlahnya sudah tidak terhitung sejak saya menjadi Presiden di negeri ini. Saya kira masyarakat pun juga tidak ingat.
Bahkan, ketika saya sedang melakukan koreksi akhir rancangan buku ini, saya masih saja mendapatkan berbagai fitnah. Mungkin Anda tidak percaya. Atau saya dianggap mengada-ada dan melebih-melebihkan. Baiklah, bagi yang tidak percaya, nanti akan saya ceritakan fitnah apa aja yang diedarkan di kalangan masyarakat di bulan Oktober 2013 dan November 2013 lalu.
Di bagian ini, saya hanya ingin menyebutkan beberapa contoh fitnah yang sungguh mengganggu pikiran saya dan keluarga. Kerusakan atas nama baik dan kehormatan saya memang tidak ternilai harganya akibat fitnah-fitnah itu.
Saya mulai dari sejak awal saya mengemban tugas sebagai Presiden.
Saya difitnah bahwa dalam Pemilihan Presiden tahun 2004 saya menerima bantuan dana dari pihak asing sejumlah 50 juta dollar AS. Jumlah ini setara dengan setengah triliun rupiah. Luar biasa kejamnya.
Saya juga difitnah bahwa sebelum memasuki Akademi Militer, atau Akabri, telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Sesuatu yang kalau itu benar adanya saya sudah dipecat dari Taruna Akademi Militer, atau diberhentikan dari dinas militer. Sesuatu yang menyakitkan.
Keluarga saya juga difitnah telah menerima pemberian mobil Jaguar dari pengusaha. Sementara itu, Partai Demokrat dan tim seorang sukses saya dalam pemilihan presiden juga difitnah telah menerima aliran dana 6,7 triliun rupiah, sebuah jumlah yang amat besar. Bukan main jahatnya.
Saya juga difitnah bahwa seolah-olah sayalah yang mengeluarkan perintah untuk melakukan bail-out Bank Century di tahun 2008, sering diembe-embelidengan niat yang tidak baik dari saya. Fitnah ini bahkan masih terus dilancarkan oleh seorang anggota DPR hingga buku ini dipersiapkan. Belakangan Pak Boediono menggunakan istilah "pengambilalihan", bukan bail-out.
Kemudian, yang belum lama terjadi, saya juga difitnah bahwa penghargaan yang saya terima dari Kerajaan Inggris, yaitu Knight Grand Cross of the order of Bath diterjemahkan sebagai Salib Agung sehingga itu hanya berlaku bagi komunitas Kristiani. Kenyataannya banyak Kepala Negara yang beragama Islam yang menerima penghargaan itu. Yang lebih menyakitkan adalah diedarkannya berita bahwa penghargaan yang saya terima itu sebagai konsesi pemberian usaha gas bumi kepada perusahaan BP yang beroperasi di Papua. Keterlaluan.
Itu baru beberapa. Masih banyak yang lain, yang tidak kalah sadis dan keterlaluannya. Tetapi, saya tidak hendak menjelaskan betapa tidak benarnya semua fitnah itu, karena memang bukan itu yang ingin saya sampaikan. Tetapi yang jelas, di hadapan Allah SWT, saya harus mengatakan bahwa 100 persen fitnah itu tidak benar. Saya sanggup mempertanggungjawabkannya di dunia dan akhirat.
Sebagaimana yang saya janjikan di awal tulisan ini, saya ingin menceritakan satu berita tidak berdasar alias fitnah yang berkembang di bulan Oktober 2013 yang lalu. Yaitu, berita bahwa seseorang, yang bernama Bunda Putri, diisukan dekat dengan saya. Mengapa berita itu segera menjadi perhatian publik, karena yang mengucapkan adalah Pak Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) yang tengah menjalani proses hukum di KPK karena tuduhan korupsi.
Selengkapnya, cerita itu seperti ini.
Ketika baru saja saya mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, setelah menjalani penerbangan dari Brunei Darussalam untuk mengikuti pertemuan puncak ASEAN dan East Asia Summit, saya menerima berita yang tidak sedap. Berita yang keterlaluan, karena bohong. Dalam keletihan fisik saya akibat rangkaian kegiatan nonstop selama lebih dari satu minggu, saya menerima "hadiah" berita miring itu.
Sejumlah media mengutip dan memuat pernyataan LHI yang mengatakan bahwa Bunda Putri itu sangat dekat dengan SBY. Bahkan, yang bersangkutan dikatakan mengerti pula rencana reshuffle kabinet dan kebijakan-kebijakan Presiden SBY yang lain. Saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran LHI. Pak Luthfi sebenarnya juga sahabat saya. Tetapi sekali lagi, apa maksud dan tujuan berkata seperti itu, yang semuanya juga tidak benar. Apa hanya ingin menyerempetkan saya dengan apa yang dilakukannya yang kemudian harus berperkara secara hukum tersebut? Saya heran, banyak pihak yang juga heran, kenapa harus membawa-bawa nama SBY yang sama sekali tidak ada hubungannya, dan juga tidak tahu-menahu dengan kasus yang terjadi itu.
Para staf menyarankan kepada saya untuk segera menanggapi berita yang aneh dan jelas tidak mengandungi kebenaran itu, agar beritanya tidak berkembang ke mana-mana. Agar tidak muncul fitnah baru, termasuk kecurigaan yang tidak perlu dari masyarakat terhadap saya. Usulan itu akhirnya saya setujui.
Namun, sebelum saya menyampaikan penjelasan bahwa saya memang tidak mengenal Bunda Putri tersebut, dalam arti pernah atau sering berkomunikasi, apalagi membicarakan soal reshuffle dan kebijakan-kebijakan saya yang lain, saya ingin mendapatkan informasi dan pengetahuan yang lebih utuh. Saya meminta Mensesneg yang sedang bersama saya untuk menelepon Menteri Pertanian siapa Bunda Putri tersebut. Pertanyaan yang sama juga saya minta dari pihak-pihak yang berkompeten. Jawaban dari mereka sangat jelas. Gamblang. Siapa Bunda Putri itu. Juga sama sekali tidak ada kaitannya dengan saya.
Setelah itu saya tanyakan kepada Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, Sespri Kustanto, para Staf Khusus Presiden dan juga para ADC Presiden ~ apa ada yang kenal. Atau pernah menerima surat dari yang bersangkutan. Atau pernah mengajukan permintaannya untuk bertemu dengan saya. Semuanya nihil. Tidak ada yang mengenal. Tidak ada yang pernah bertemu secara khusus dengannya. Tidak ada pula permintaan untuk ketemu saya.
Ketika saya memandang cukup keterangan yang harus saya miliki, karena sebagai Presiden saya tidak boleh asal bunyi, atau menyampaikan sesuatu yang belum saya kuasai permasalahannya, baru saya keluarkan statement saya. Tegas, jelas, dan langsung. Sengaja saya sampaikan kepada masyarakat ketidaksenangan dan keprihatinan saya terhadap perilaku politik seperti itu. Saya harus ikut berupaya agar negeri ini tidak menjadi lautan fitnah. Itu kewajiban dan tugas yang secara moral harus saya lakukan.
Setelah saya sampaikan pernyataan tegas dan langsung saya (direct) , melalui media sosial dan SMS, saya mendapatkan banyak dukungan. Mereka juga geram dengan cara-cara yang tidak baik dan tidak kesatria seperti itu. Memfitnah, mencemarkan nama baik, dan menyeret-nyeret seseorang yang tidak ada kaitannya dengan kasus yang dihadapi.
Berdekatan dengan beredarnya kasus Bunda Putri ini, muncul lagi fitnah yang lain. Yang baru. Saya tidak tahu apakah arsitek dan juru fitnahnya juga pihak-pihak yang sama. Mengapa? Kalau sebelumnya isunya adalah Bunda Putri, kini yang diedarkan adalah yang disebut dengan Bunda Wiwin. Fitnahnya tidak kurang sadisnya dengan fitnah yang saya terima sebelumnya.
Dikatakan adalah seseorang yang disebut Bunda Wiwin. Katanya ia bersama kliennya sering datang ke rumah Ibunda saya, Siti Habibah. Setiap datang katanya meninggali amplop kepada para pramuwisma dan pendamping Ibunda saya ~ alias bagi-bagi uang. Sebenarnya, berita itu jelas tidak benar. Ibunda saya sudah sekitar tiga tahun ini dalam keadaan sakit dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Termasuk dengan saya sendiri. Kami hanya bisa merasakan respons dan emosi Ibu Siti Habibah dari isyarat mata beliau. Beliau juga tidak pernah menerima tamu, kecuali saya sekeluarga, adik kandung beliau, dan saudara-saudara dekat. Jelas sebuah fiksi, jika Ibunda saya diisukan menerima tamu seperti Bunda Wiwin tersebut.
Sungguhpun demikian, mendengar berita yang menyakitkan itu istri, Ibu Ani, tetap bertanya kepada yang mendampingi Ibu Siti Habibah, apakah ada tamu yang namanya Bunda Wiwin. Juga katanya sering bagi-bagi amplop. Disamping menjawab tidak pernah dan tidak ada sama sekali, mereka terperanjat. Marah dan juga sedih. Tidak satu pun yang kenal. Juga tidak pernah datang ke rumah itu. Lagi pula, kami juga mengontrol siapa-siapa yang datang ke rumah Ibunda saya, agar tidak mengganggu kesehatan beliau yang dalam keadaan sakit.
Dalam komunikasi di dunia media sosial, saya persilakan untuk saya menuntut secara hukum jika ada pihak-pihak yang menjadi korban penipuan, seperti kasus Bunda Wiwin tersebut. Artinya, kalau ada pihak yang tertipu dan terkecoh, dan kemudian secara materi juga dirugikan, bawalah masalah itu ke ranah hukum. Negeri kita adalah negara hukum. Bukan negara fitnah.
Berbicara soal fitnah dan pergunjingan sepertinya tidak ada habis-habisnya. Ada saja. Termasuk fitnah "baru" hasil kreasi seseorang yang nampaknya frustrasi dengan keadaan. Judul fitnahnya pun seram ~ SBY "barter" jabatan dengan Boediono. Di berbagai forum fiksi ini dijual dengan penuh semangat. Siapa tahu ada yang membeli.
Adalah seorang sahabat saya ~ Saiful Mudjani ~ seorang doktor ahli komunikasi dan pengelola lembaga survei yang menelepon dan memberitahu saya tentang kabar aneh itu.
"Pak SBY, kalau boleh, biar saya yang membantah berita tidak benar itu. Saya menjadi saksi dan sekaligus pelaku sejarah bahwa tuduhan itu bohong belaka," begitu ucap Bung Saiful dengan nada kesal. Yang dimaksudkan dengan berita bohong adalah tentang barter jabatan Wakil Presiden itu.
Terus terang, ketika pertama kali saya mendapatkan telepon itu saya belum "ngeh" benar. Dalam hati saya ada apa gerangan dan ada fitnah apa lagi. Ternyata fitnahnya tidak kalah serunya dengan fitnah-fitnah yang lain. Begini dongengnya:
"Pada saat Pak Boediono, Gubernur BI waktu itu memutuskan saat untuk melakukan penyelamatan Bank Century di akhir November 2008, dikatakan oleh seseorang bahwa sayalah yang memintanya. Dengan imbalan Pak Boediono akan saya jadikan wakil presiden pada pemilihan presiden tahun 2009, atau tahun depannya. Lebih lanjut sang juru fitnah itu mengatakan bahwa tindakan itu termasuk gratifikasi."
Coba, kreatif kan?
Mari kita nalar bersama. Penyelamatan Bank Century oleh Gubernur BI dan sejumlah pejabat yang diberikan misi dan kewenangan oleh undang-undang itu terjadi pada akhir November 2008. Jauh sebelum pemilihan umum. Pemilu legislatif saja belum, apalagi pemilihan presiden. Dalam konteks pemilu, saat itu saya pun belum memikirkan bagaimana berkampanye untuk Pemilu 2009. Pada bulan Januari 2009-lah, untuk pertama kalinya saya berbicara dengan para kader utama Partai Demokrat tentang strategi dan upaya pemenangan pemilu legislatif. Belum bicara pilpres, apalagi calon wakil presiden. Bahkan, sebenarnya jika tidak ada dinamika dan perkembangan politik di internal Golkar, sangat mungkin saya berpasangan kembali dengan Pak JK.
Sepanjang masa kampanye pemilu legislatif saya pun tidak pernah membicarakan apalagi menyebut calon presiden yang akan saya gandeng dalam Pilpres 2009. Banyak yang obral kata-kata siapa yang dilirik untuk menjadi wakil presiden. Tapi tidak pernah ada dari saya. Saya belum tahu apakah Partai Demokrat bisa mencapai 20 persen suara, sesuatu yang digariskan dalam Undang-Undang Pemilihan Presiden. Sementara dunia politik saat itu tahu bahwa Partai Demokrat diramalkan bakal tidak bisa mengusung calonnya sendiri. Diprediksi hanya Partai Golkar dan PDI Perjuangan yang bisa mengusung calon presidennya. Berkaitan dengan Undang-Undang Pemilihan Presiden yang berlaku dalam Pemilu 2009 tersebut banyak yang mengatakan bahwa aturan itu dibikin ketat agar saya tidak bisa maju lagi, paling tidak sendiri, karena diperkirakan Partai Demokrat bakalan tidak mencapai angka 20 persen. Asumsi yang dibangun adalah karena Pemilu 2004 perolehan Partai Demokrat hanya 7,5 persen, maka dalam Pemilu 2009 paling tinggi PD hanya akan mencapai 10-15 persen.
Nah, setelah Allah menakdirkan bahwa ternyata Partai Demokrat justru bisa mengusung calon presidennya sendiri tanpa bergabung dengan partai lain, barulah saya mulai memikirkan siapa-siapa yang patut saya pertimbangkan untuk mendampingi saya.
Singkat kata, akhir April hingga awal Mei 2009 saya meminta seseorang untuk melakukan jajak pendapat tentang siapa calon wakil presiden yang paling tepat mendampingi saya. Jajak pendapat ini harus obyektif dan benar. Untuk itu saya meminta jasa Bung Saiful Mudjani untuk melakukan survei dan sejumlah metodologi untuk menjaring opini publik. Mengapa saya pilih Saiful Mudjani, karena yang bersangkutan saya nilai termasuk yang obyektif jika melakukan survei. Tidak dibuat-buat. Ketika ada kejadian yang membuat masyarakat tidak suka dengan saya, misalnya baru saja pemerintah menaikkan harga BBM, popularitas saya langsung anjlok. Kawan saya itu tidak menutup-nutupi, atau membikin angka yang baik untuk menyenang-nyenangkan saya. Tentu saja saya suka tokoh seperti ini.
Saya masih ingat metode yang digunakan di samping survei terhadap masyarakat sebagaimana yang sering dilakukan oleh lembaga survei, juga ada jajak pendapat untuk kelompok menengah, dan juga diskusi dengan para "opinion leaders". Diskusi dengan para opinion leaders dilaksanakan di 6 kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Makassar. Awal Mei 2009, keseluruhan jajak pendapat itu selesai dilaksanakan. Hasilnya, dari sekian banyak calon yang disurvei Pak Boediono-lah yang nilainya paling tinggi. Hasil resmi survei calon wakil presiden itu hingga kini masih saya simpan dengan rapi sebagai dokumen sejarah.
Setelah itulah, saya mulai mengundang Pak Boediono ke Cikeas untuk berbincang-bincang. Pertama kali, ketika beliau saya ajak dan tawari untuk menjadi calon wakil presiden, Pak Boediono tidak bersedia. Beliau merasa tugas-tugas yang diemban hingga saat itu, yaitu Menko Perekonomian di kabinet pertama saya dan kemudian Gubernur BI, dirasakan sudah cukup dan juga mulia. Namun, ketika sekitar satu minggu kemudian saya ajak bicara lagi dengan topik yang sama, Pak Boediono mulai berpikir. Barangkali merasakan kalau saya sungguh serius dan "honest". Bukan janji-janji kosong, Namun, beliau meminta beberapa hari untuk berkonsultasi dengan keluarga. Tentu saja saya hormati dan setujui permintaan Pak Boediono untuk merundingkan segala sesuatunya dengan keluarga itu. Kalau saya jadi Pak Boed, saya pun akan melakukan hal yang sama.
Tentu saya tidak perlu menceritakan apa yang terjadi setelah itu. Semuanya telah menjadi bagian dari sejarah kita. Cuma, kalau semua pihak mengetahui sejarah dan proses saya memilih Pak Boediono sebagai calon wakil presiden dulu, yang difitnahkan kepada saya dan Pak Boediono itu sungguh keterlaluan."
Jika Anda semua membaca buku ini, cerita-cerita seperti ini akan banyak Anda jumpai. Tentu dengan situasi dan konteks yang berbeda-beda. Dalam keyakinan saya, cerita yang berkaitan dengan serba-serbi kehidupan di dunia politik itu perlu saya bagikan kepada saudara-saudara saya rakyat Indonesia, utamanya para pencinta demokrasi dan para pemimpin Indonesia mendatang.
Yang penting, jika nanti di antara Anda ada yang menjadi Presiden, janganlah kecil hati dan merasa dunia sudah kiamat jika Anda dihujani dengan fitnah. Anggaplah semuanya itu sebagai ujian dan cobaan Tuhan atas anugerah yang diberikan kepada Anda menjadi pemimpin di negeri ini.
Sejumlah ulama memberikan nasihat kepada saya. Nasihat ini masih sering saya terima hingga sekarang ini. Beliau-beliau menyampaikan nasihatnya baik melalui SMS maupun secara lisan ketika bertemu dengan saya. Rata-rata bunyinya begini:
"Yang sabar ya. Fitnah dan hujatan itu memang menyakitkan. Pak SBY tengah diuji oleh Allah. Jika lulus, Allah akan memberikan kemuliaan yang lebih besar. Percayalah, Allah itu Mahaadil."
Mendengar nasihat seperti itu rasanya hati saya seperti disiram air surgawi yang dingin dan membahagiakan. Ketika saya ceritakan kepada istri nasihat dari ulama seperti itu, ia pun tampak makin tenang hatinya.
Ada lagi ulama yang menyampaikan pandangan, dan hakikatnya juga nasihat, yang menarik. Kurang lebihnya beliau mengatakan:
"Orang yang kegemarannya menjelekkan orang lain, termasuk melancarkan fitnah, sepanjang malam barangkali tidak sempat tidur, karena hanya memikirkan serangan, hujatan dan fitnah apalagi yang akan dilakukan kepada orang lain. Bahkan, barangkali shalat atau beribadah pun ia tinggalkan. Sementara, orang yang senantiasa dijelek-jelekkan termasuk difitnah sudah tidur dengan nyenyak. Bahkan, hidupnya bisa jadi lebih tenang dan bahagia. Belum lagi jika dihitung ganjaran yang akan diterima oleh keduanya di akhirat nanti."
Mendengar pandangan seperti itu saya mengangguk dan dalam hati saya membenarkannya. Barangkali masih banyak lagi para ulama atau siapa pun yang ingin menyampaikan nasihat yang sama kepada saya, tetapi tidak punya kesempatan untuk itu.
Ada satu lagi yang masuk dalam hati dan pikiran saya, berkaitan dengan isu fitnah dan perilaku menjelek-jelekkan orang lain ini.
Dalam sebuah kegiatan shalat Jumat berjamaah yang dilaksanakan di Masjid Baiturrahim Istana Negara, adalah penceramah yang seorang isi khotbahnya amat mengena di hati jemaah. Khotib tersebut para adalah K.H. Munahar Mukhtar. Salah satu materi khotbah yang disampaikan menyangkut pentingnya manusia untuk lebih melihat diri sendiri, ketimbang melihat orang lain. Maknanya adalah bahwa lebih baik kita melakukan introspeksi untuk memperbaiki diri kita, daripada suka menuding dan menjelekkan orang lain.
Materi ceramah yang menurut saya amat penting dan relevan itulah yang selanjutnya sering saya angkat dan sampaikan ketika saya memberikan sambutan dalam forum-forum yang tepat. Setelah saya tambahkan dan lengkapi dengan pandangan dan pemikiran saya, di banyak kesempatan saya sampaikan hal-hal seperti ini:
"Jika kita hanya melihat kekurangan dan apalagi selalu menjelek-jelekkan orang lain, jangan-jangan kita tidak memiliki waktu untuk melihat diri kita sendiri. Jangan-jangan kekurangan dan kejelekan yang ada pada diri kita jauh lebih banyak. Jangan-jangan kita tidak sempat memperbaiki kekurangan yang ada pada diri kita itu."
Kemudian saya lanjutkan lagi kata-kata saya:
"Sebaliknya, dengan melihat orang lain serba kurang dan serba jelek, kita tidak bisa melihat kebaikan yang ada pada orang itu. Kebaikan yang jangan-jangan kita justru tidak memilikinya." ***
Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 128 - 136.

