Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Meskipun seorang pemimpin pasti menyayangi semua yang dipimpinnya, tulus, dan sepenuh hati, belum tentu perlakuan dari yang dipimpin terhadapnya selalu baik. Saya juga yakin, bahwa siapa pun Presiden yang pernah memimpin negeri ini, mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, dan seterusnya ingin berbuat yang terbaik bagi rakyat dan negaranya.
Namun, kenyataannya, dunia tidak seindah yang diimpikan. Kehidupan ternyata sering amat keras bahkan kejam. Di satu sisi manusia sering bersikap lemah lembut, santun, toleran, moderat, dan rasional. Tetapi, di sisi lain manusia kerap pula menjadi kasar, ekstrem, agresif dan tidak rasional. Sebagai seorang pemimpin yang mengalami suka-duka dan pahit-getirnya keadaan, perlakuan dari saudara-saudara saya rakyat Indonesia dari kedua keadaan itu selalu saya jumpai.
Cerita yang ingin saya sampaikan ini saya yakini tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas. Tetapi hal ini terjadi.
Ketika ada kejadian yang memberikan dampak kurang baik bagi sebagian kalangan masyarakat kita, ataupun ada keputusan dan kebijakan saya ambil sebagai Presiden, ataupun pula ada keadaan yang tidak menyenangkan sebagian rakyat kita, apa yang diucapkan dan disampaikan kepada saya sering luar biasa keras dan kasarnya. Memang jumlahnya sedikit. Sedikit sekali. Tetapi dengan sering diangkatnya oleh media massa, banyak sahabat saya yang amat prihatin dan marah dengan kekasaran seperti itu. Sejumlah makian dan sumpah serapah sempat di-SMS-kan kepada saya atau Ibu Ani. Saya yakin, bagi siapa pun yang membacanya akan mengatakan kata-kata itu sebagai keterlaluan.
"SBY, semoga Tuhan mengutukmu. Biar pesawat yang Anda tumpangi jatuh," kirim seseorang yang merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM.
"SBY Anda akan menanggung dosa di akhirat," kata-kata seseorang yang sangat kecewa karena saya dianggap tidak bisa membantu mencarikan pekerjaan.
"Jika permintaan kelompok kami tidak dipenuhi akan saya kerahkan rakyat untuk membakar Jakarta, serta menyerbu dan menghancurkan Istana Negara," ancam mereka yang merasa tidak ada kepastian untuk menjadi pegawai negeri tetap.
"Apa alasannya, salah atau tidak salah, SBY harus masuk penjara," kirim seseorang yang tidak jelas identitasnya.
"Dasar penakut. Lebih baik Anda mundur dari presiden," kata-kata seseorang yang mengaku dari kalangan perguruan tinggi tertentu, karena ia kecewa kenapa saya tidak memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Juga kenapa saya takut untuk menyerang Maaysia secara militer.
"SBY itu manusia pembawa sial, dan merusak," ucap seseorang yang bergerak di dunia paranormal, tetapi juga di wilayah politik, yang secara pribadi sebenarnya saya tidak memiliki permasalahan dengannya.
"Haram hukumnya memilih kembali SBY jadi presiden," ucap seorang pemimpin organisasi massa dari agama tertentu yang terkenal ekstrem, karena merasa kesal atas ketegasan dan sikap tidak kompromi saya terhadap aksi-aksi kekerasan yang sering dilakukan. Kata-kata itu disampaikan pada kampanye Pemilihan Presiden tahun 2009 masa yang lalu.
Ternyata kata-kata yang menghunjam tajam seperti yang saya sampaikan di atas bukan hanya datang dari anggota masyarakat. Kita sering dengar pula dari kalangan DPR, elite politik dan pengamat. Saya ini demokrat dan seorang yang rasional. Saya sungguh tahu seorang bahwa anggota parlemen, politisi dan pengamat itu bagai "ditakdirkan" untuk berkata dan bersikap kritis. Tetapi, menurut pendapat saya, selalu ada ukuran dan kepatutannya. Itulah ciri-ciri politik yang berkeadaban, atau civilized. Itulah yang juga berlaku dalam hukum dan etika internasional, seperti prinsip limitation of harm and proportionality.
Ketika ada konsultasi antara pemerintah dengan DPR RI berkaitan dengan rencana kenaikan BBM pada tahun 2008 yang lalu, ada seorang anggota DPR yang juga pengurus dari fraksi partai tertentu, yang menghadiahkan serangan pedas kepada saya sebagai berikut:
"Pemimpin itu berkewajiban untuk menyejahterakan masyarakat. Bukan seperti ini, zalim kepada rakyatnya," anggota DPR itu ucap berapi-api dan tanpa beban.
Belakangan, di masa bakti saya yang kedua sebagai presiden, tokoh yang bersangkutan saya angkat menjadi menteri. Ketika saya mengangkat yang bersangkutan sebenarnya saya tidak pernah lupa akan dampratan pedas yang menyakitkan hati itu. Tetapi, saya selalu melihat ke depan. Dengan menjadi menteri ia kini mengerti apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh seorang presiden. Ia juga mengerti betapa tidak mudahnya mengambil keputusan dan menetapkan kebijakan yang paling tepat atas berbagai permasalahan yang kompleks. Mudah-mudahan yang bersangkutan bisa lebih melengkapi dan menyempurnakan kepribadiannya.
Untuk melengkapi betapa saya juga menerima kata-kata yang kasar dan keterlaluan, berkaitan dengan orang yang sangat kecewa, saya akan angkat cerita itu di sini. Seseorang itu marah karena ingin menjadi sesuatu, tetapi tidak saya penuhi. Dengan gusar ia mengecam saya di hadapan seseorang, dan kemudian seseorang tersebut meneruskannya kepada saya. Bunyinya demikian.
"Jangan harap Anda mendapatkan jabatan itu. Semuanya serba uang. Kalau saya mau memberi 30 miliar rupiah, saya pasti jadi."
Naudzubillah. Penyimpangan seperti itulah yang saya perangi. Politik uang seperti yang digambarkan itulah yang harus kita singkirkan karena akan menghancurkan demokrasi kita.
Sekali lagi inilah kehidupan. Meskipun saya dan keluarga sudah memahami mengapa saya diperlakukan seperti ini, tetapi tetap saja saya suka merenung. Pernah terlintas di pikiran saya, apakah hanya saya yang dibeginikan. Tetapi, akal saya segera bekerja. Dari apa yang saya ketahui dan pelajari ternyata saya bukan satu-satunya yang menderita secara batin seperti itu. Bahkan, mungkin ada pemimpin lain yang tidak kalah dalam hal pengorbanan dan penderitaan yang mesti dialami.
Saya jadi teringat seperti apa sebagian rakyat kita memperlakukan Bung Karno, Presiden pertama kita, setelah terjadinya peristiwa G30S di tahun 1965. Meskipun waktu itu saya masih duduk di bangku SMA, saya ikut merasakan dan mengetahui betapa beliau, pemimpin besar yang jasa dan pengorbanannya kepada republik ini tidak terhingga, harus mendapatkan perlakuan yang melebihi kepatutannya dari sebagian bangsa kita.
Kita juga ingat bagaimana Pak Harto diperlakukan setelah beliau lengser di tahun 1998 oleh sebagian bangsa kita. Seolah apa yang dilakukan oleh Pak Harto dalam membangun negeri ini, dengan berbagai hasil dan capaian yang nyata, dianggap tidak ada. Sepertinya juga tidak pernah diingat, apalagi dhargai. Seperti hanya nasb Bung Karno, Pak Harto juga mendapat perlakuan yang sering melampui batas kepatutannya.***
Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 224 - 227.

