Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono
Sebagai seorang purnawirawan jenderal saya amat mengerti bahwa selalu ada risiko bagi seorang presiden. Risiko itu bahkan hingga tingkat asasinasi, atau pembunuhan secara fisik.
Tanpa diketahui oleh masyarakat luas, secara berkala ataupun insidentil saya diberi tahu baik oleh Kepala Badan Intelijen Negara (Ka BIN), Kapolri, maupun Komandan Paspampres, jika ada ancaman yang nyata atas keselamatan saya. Biasanya mereka menyarankan kepada saya untuk menunda sebuah kunjungan atau kegiatan, ataupun melakukan pengamanan yang lebih ketat. Dalam praktik saya memilih untuk ditingkatkan saja tindakan pengamanan terhadap saya, daripada saya harus menunda atau membatalkan sebuah kegiatan yang telah dipersiapkan.
Pernah ada kejadian yang akhirnya menjadi bulan-bulanan pers. Pasalnya, karena harus menjelaskan ke publik, Ka BIN waktu itu, Pak Syamsir Siregar, sekitar tahun 2009 mengatakan bahwa ada rencana operasi untuk melakukan pembunuhan terhadap presiden. Rencana itu dipersiapkan oleh kelompok teroris, bahkan latihan-latihan yang dilakukan disebuah kamp telah mengarah kepada operasi itu. Belakangan hal itu juga diakui dalam sebuah persidangan yang mengadili kaum teroris itu.
Tetapi, sebagaimana yang terjadi dalam politik di negeri ini, sejumlah kalangan DPR dan pengamat menanggapi hal itu sebagai sesuatu yang dibesar-besarkan dan hanya untuk sebuah pencitraan. Saya memilih diam, dan memang tidak perlu saya mengeluarkan pernyataan yang tidak perlu.
Peristiwa yang lain terjadi ketika saya sedang melakukan kunjungan ke Jawa Barat, utamanya ke daerah Ciwidey. Pihak kepolisian secara mengetahui ada aktivitas sel terorisme yang sedang bergerak di sekitar Bandung, Padalarang hingga daerah Ciwidey. Bahkan, intelijen yang didapatkan beberapa elemen dari sel itu sempat bergerak di sekitar tempat bermalam saya di Padalarang. Karena entah bagaimana tiba-tiba pers mengetahui berita ini, dan menanyakan kepada saya, di Ciwidey, ketika saya sedang meninjau kesatrian Sekolah Calon Tamtama. Menjawab pertanyaan pers itu saya memberikan penjelasan secukupnya:
"Benar, saya mendapat laporan bahwa ada ancaman fisik terhadap saya. Tetapi kegiatan saya akan tetap berjalan sebagaimana yang direncanakan. Tentu, sesuai dengan amanah undang-undang, Paspampres akan meningkatkan kegiatan pengamanan terhadap saya. Saya meminta pengertian dari masyarakat jika pengamanan yang dilaksanakan Paspampres lebih ketat dari biasanya."
Kejadian yang lain, yang amat nyata, adalah rencana yang sudah dipersiapkan dengan baik untuk melakukan pengeboman rumah saya di Cikeas oleh sekelompok teroris. Kali ini tidak banyak kalangan yang menyangsikan bahwa berita itu hanya karangan semata, karena bukti-buktinya amat nyata.
Bom dengan kekuatan ledak yang besar telah dirakit dan dipersiapkan di daerah Jatiasih, Bekasi, hanya berjarak 10 kilometer dari Cikeas. Mobil yang dipersiapkan untuk membawa bom peledak juga sudah ada. Pengemudi dan pengebom bunuh dirinya juga sudah dipersiapkan. Jadi mereka siap untuk meledakan bom itu pada waktu yang ditetapkan.
Namun, Tuhan Mahabesar. Jajaran Polri bisa mengetahui rencana itu, dan melalui operasi yang cepat dan efektif rencana pembunuhan itu bisa digagalkan. Itu kejadian pada bulan Agustus tahun 2009 yang lalu.
Apa yang hendak saya katakan. Siapa pun yang menjadi Presiden Indonesia di masa datang, selalu ada risiko seperti yang saya ungkapkan tadi. Tetapi, menurut pandangan saya, kita tidak boleh dikontrol oleh kaum penjahat seperti itu. Bahwa kita harus senantiasa waspada dan tidak mengangap ringan sesuatu, saya sangat setuju. Tetapi, sebagai pemimpin saya harus bisa menjalankan tugas saya kapan pun dan di mana pun.
Ancaman terhadap presiden bisa juga bersifat nonfisik. Sebenarnya saya ragu-ragu untuk menceritakan bagian ini, karena bisa saja saya dituduh sebagai pemimpin yang tidak rasional. Atau bahkan dianggap percaya kepada takhayul. Tetapi, dengan terlebih dahulu secara tegas saya sampaikan bahwa insya Allah keimanan dan ketakwaan saya akan tetap kuat dan tegas, memang ada banyak kejadian yang kurang bisa dinalar secara baik. Nah, dalam kaitan itulah setelah akal dan logika saya tidak mampu memahami peristiwa yang terjadi di sekitar kehidupan saya, maka saya harus jujur bahwa ada kekuasaan Allah yang belum saya mengerti. Saya tidak ingin menjadi manusia yang takabur dan sombong bahwa segala sesuatu yang tidak saya pahami sebagai nonsense. Saya berpandangan bahwa segala sesuatu yang saya benar-benar tidak tahu, itu milik Allah semata.
Dari sekian banyak cerita dan peristiwa, saya hanya ingin membagikan satu saja. Saya sungguh berharap bahwa jika Anda beragama Islam dan membaca bagian ini ucapkanlah berkali-kali subhanallah. Semoga kita dijauhkan dari syirik.
Sekitar tahun 2009, menjelang Pilpres 2009, di hari Minggu pagi, istri sedang membaca majalah di ruang keluarga. Sedangkan saya tengah beraktivitas di ruang perpustakaan. Tiba-tiba istri berteriak dan memanggil-manggil saya. Saya segera berlari ke ruang tengah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ternyata ada asap hitam tebal dan berputar-putar di langin-langit dan di tengah ruangan itu. Asap hitam itu bergerak ke timur, seperti ingin menerobos ke kamar saya. Begitu saya melihat peristiwa yang menakutkan itu, saya ajak mereka untuk memohon pertolongan Allah. Saya ajak mereka semua membaca surat Al-Fatihah. Saya sendiri melengkapinya dengan doa penolak bala dan kejahatan. Saya juga meminta untuk menutup pintu kamar saya, dan sebaliknya membuka semua pintu yang ada. Apa yang terjadi, asap tebal yang berputar-putar itu bak ditutup angin yang kuat bergegas ke luar dari rumah saya. Alhamdulillah. Saya sekeluarga selamat. Peristiwa ini seperti adegan film horor yang sering kita lihat. Atau seperti yang terkisahkan di cerita-cerita lama. Tetapi sungguh ada. Sungguh nyata.
Sebenarnya masih banyak kejadian-kejadian yang saya anggap ganjil dan sulit dinalar secara logika. Tetapi, lebih baik saya simpan untuk kenangan pribadi saya. Barangkali hal-hal aneh seperti itu bukan hanya saya yang menghadapi dan mengalaminya. Barangkali pula itu sebuah konsekuensi yang harus saya tanggung dan hadapi sebagai pemimpin puncak negeri ini.
Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah berkaitan dengan apa yang dilaksanakan oleh Paspampres yang oleh sebagian kalangan dianggap berlebihan dalam melakukan pengamanan terhadap presiden. Dengan cerita ini saya berharap rakyat bisa memahaminya. Meskipun, saya selalu berpesan kepada mereka, janganlah berlebihan karena saya ingin selalu dekat dengan rakyat. Dekat di hati dan pikiran, serta dekat secara fisik.
Secara universal ada taktik dan teknik pengamanan VVIP, seperti presiden dan perdana menteri. Misalnya, menyaring tamu-tamu yang akan bertemu dengan presiden, membuat jarak tertentu yang bisa menjamin keselamatan presiden di mana pun dan dalam acara apa pun. Mengecek makanan yang akan dihidangkan kepada presiden. Mengatur konvoi kendaraan presiden. Dan lain-lain yang sering dilakukan oleh Paspampres selama ini. Pengamanan seperti ini juga berlaku bagi semua presiden. Jadi bukan hanya berlaku bagi SBY.
Ada semacam semboyan yang dianut oleh Pasukan Pengamanan Presiden yang berlaku secara universal yaitu: "Everybody, every place, and every event must be safe". Artinya, setiap orang, setiap tempat, dan setiap kegiatan harus aman.
Mungkin sebagian dari Anda juga mengetahui bahwa pengamanan presiden di banyak negara jauh lebih ketat dibandingkan dengan yang dilakukan oleh Paspampres Indonesia. Sebagai contoh, jika Presiden Amerika Serikat berpergian meninggalkan White House dengan helikopter, atau sebaliknya dari luar menuju ke White House, selalu ada dua helikopter. Dua helikopter yang sama-sama bersimbul Marine One akan melakukan taktik dan teknik penerbangan sedemikian rupa, untuk mengecoh pihak-pihak yang punya niat jahat.
Presiden Korea Selatan dan juga Ibu Negara-nya selalu menggunakan kendaraan keras di manapun berada. Termasuk ketika berkunjung ke luar negeri. Mengapa? Pada tahun 1970-an dulu, baik presiden maupun ibu negara Korea Selatan tewas tertembak, yaitu Presiden Park Chung-hee, ayahanda Presiden Korea Park Guen-hye yang sekarang. Sejarah mencatat bahwa Ibu Park Chung-hee dulu yang tewas tertembak, baru kemudian Presiden Park sendiri. Istri saya, Ibu Ani, sedang berada di Seoul, Korea Selatan ketika terjadi peristiwa yang amat tragis tersebut ~ khususnya peristiwa tertembaknya Ibu Park Chung-hee. Istri tinggal di Seoul hampir selama dua tahun, mengikuti ayahandanya Jenderal Sarwo Edhie Wibowo yang sedang bertugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan.
Asasinasi terhadap presiden yang masih aktif ini juga terjadi di Amerika Serikat dengan tewasnya Presiden Abraham Lincoln di tahun 1865, dan Presiden John F.Kennedy di tahun 1963 dulu. Di Indonesia sendiri sejarah juga mencatat bahwa Presiden pertama kita, Bung Karno, juga beberapa kali menghadapi ancaman pembunuhan.
Dengan berbagai contoh tadi, amat dimengerti jika banyak negara yang memiliki standar pengamanan presiden yang ketat dan tinggi. Sebagaimana yang saya sampaikan di bagian lain buku ini, saya memohon pengertian rakyat Indonesia, jika apa yang dilakukan oleh Paspampres mengganggu kenyamanan banyak pihak. Tetapi, mereka menjalankan tugas dan amanah undang-undang. Tugas yang sama bagi semua Paspampres di seluruh dunia. Mengamankan presiden dan wakil presiden, termasuk tamu negara setingkat presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.***
Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 260 - 264.

