» » Bangsa Indonesia Kurang Pemimpin

Bangsa Indonesia Kurang Pemimpin

Penulis By on Rabu, 25 Desember 2013 | No comments

JAKARTA-Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berkelimpahan dengan sumber daya alam dan tenaga kerja. Namun yang kurang adalah pemimpin. Bangsa Indonesia kekurangan pemimpin yang amanah, yang mencurahkan energi untuk menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang besar, sebagaimana diimpikan oleh para bapak bangsa yang memerdekakan negeri ini. 

“Bangsa Indonesia kurang pemimpin, pemimpin yang amanah. Saya berharap pada anda semua, calon-calon pemimpin bangsa ini. Di bidang apa pun anda nanti berkarya, jadilah pemimpin yang amanah,” kata Wakil Presiden Boediono saat melepas Pengajar Muda Angkatan ke-tujuh Indonesia Mengajar di kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, 19 Desember 2013. 

Hadir dalam kesempatan itu pendiri Yayasan Indonesia Mengajar dan Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar Hikmat Hardono serta 52 Pengajar Muda angkatan ke-7. 

Wapres mengatakan bahwa dalam bidang apapun para Pengajar Muda akan bertugas nanti, pengalaman untuk menjadi guru dan tinggal dengan masyarakat di pelosok negeri selama satu tahun akan menjadi bekal pemimpin yang sangat mahal. Seorang pemimpin karbitan yang tak pernah berada di bawah tak akan bisa menghayati dinamika yang terjadi. “Jadi penting sekali bagi anda untuk melihat kebutuhan dan keinginan rakyat langsung di akar rumput,” katanya. 

Setiap pemimpin pun selalu diuji, kata Wapres saat menjawab pertanyaan salah satu Pengajar Muda. Ujian selalu dan disitulah Tuhan menilai apakah anda bisa naik kelas atau tidak. Ujian jangan dianggap sebagai hal yang menyengsarakan. Ujian lebih baik diikhlaskan karena itulah kesempatan bagi anda menguji diri anda sendiri. “Kuncinya adalah percaya bahwa apa yang anda lakukan adalah benar dan selanjutnya lakukan dengan sepenuh hati. 

Wapres melanjutkan, barangkali setelah keputusan diambil muncul dampak-dampak yang tidak diantisipasi, hal itu harus dilihat sebagai resiko. Namun menjadi hidup adalah untuk mengambil resiko. Bila ingin menjadi pemimpin, maka harus berani mengambil resiko sebagai pemimpin. Kalau jadi pengikut, resikonya kecil. Namun sebagai pemimpin harus mengambil resiko untuk kepentingan publik. Asal kuncinya adalah hati yang tulus, tidak melakukan sesuatu untuk tujuan sempit. “Selama anda tulus, tak usah khawatir, pasti ada yang bantu. Jadi all the best, jangan takut, maju terus,” kata Wapres. 

Dalam sesi tanya jawab, ketika ditanya apa proyeksinya akan bangsa Indonesia di masa depan, Wapres menegaskan jangan pernah kita memproyeksikan sesuatu yang negatif kepada bangsa ini karena ini negara kita. Tak ada kata lain selain sukses. Pertanyaannya bukan apa yang bisa diproyeksikan tapi apa yang harus diupayakan untuk mencapainya. Masa depan bukan sekadar pemberian tapi masa depan adalah sebab akibat dari yang kita lakukan di masa lalu. “Manusia diberi ruang untuk menentukan masa depannya sendiri,” kata Wapres. 

Indonesia adalah negara besar dengan potensi yang besar. Para pendiri bangsa di masa lalu tak punya modal apapun kecuali visi dan kini cita-cita mereka lambat laun mulai terwujud. Indonesia pernah disebut sebagai an improbable state, atau suatu negara yang tak mungkin terwujud, tapi nyatanya bisa diwujudkan. Kita yang menerima warisan itu, kata Wapres, tidak boleh mengurangi apa-apa yang ingin mereka capai. Kita harus menjadi dan memberi sumber-sumber semangat dan harapan dan pada gilirannya setiap orang harus memberi apa yang bisa diberikan. 

Wapres berpesan, bahwa apapun yang bisa diberikan para Pengajar Muda, dan dari bidang manapun, selalu niatkan untuk memberi sesuatu, bukan hanya mengambil. Bangsa ini punya kekayaan begitu bsar, kalau diambili terus lalu apa yang tersisa? Jadi semangat publik itulah kuncinya. “Indonesia optimis bisa jadi bangsa yang besar, asal kita semua optimis,” kata Wapres.  

Wapres melepas kepergian para Pengajar Muda ke lokasi dengan sebuah buku yang ia pilihkan sendiri karya seorang Profesor asal Harvard University, Michael Sandel “Justice: What’s The Right Thing To Do.” Buku ini, lanjutnya, adalah buku yang menggambarkan betapa argumentasi baik, buruk atau patut dan tidak patut tidak bisa dilihat sebagai hitam putih. Namun membahas isu-isu moralitas seperti itu bisa dilakukan dengan logika yang runtut dan sistematis, tanpa harus melepaskan nilai-nilai dasar. 

Sebagai pemimpin, kata Wapres, setiap keputusan yang anda ambil akan memiliki dimensi moral. Kalau dalam jangka panjang, kata Wapres, kita bisa menginteraksikan dan melibatkan pemikiran rasional untuk dimensi moral untuk menghadapi masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari, maka hal itu akan meningkatkan kualitas atau kebijakan atau langkah yang dihadapi manusia Indonesia. 

“Argumentasi tentang isu-isu moral ini dibutuhkan semua orang. Inilah yang kurang di kita. Bacalah buku ini, semoga anda mendapatkan sesuatu. Yang jelas saya mendapatkan sesuatu. Saya berharap buku ini diajarkan di universitas-universitas di semua jurusan,” kata Wapres. 

Wapres berulangkali menyatakan kebanggaannya atas pilihan para Pengajar Muda untuk mengikuti program mengajar satu tahun di wilayah terpencil di tanah air tersebut. Sebagai generasi yang beranjak pergi meninggalkan kepemimpinan, Wapres bahagia melihat semangat anak-anak muda dalam menempuh tugas mengajar. Anak-anak muda yang bersemangat adalah obat mujarab bagi mereka yang lelah membaca berita-berita negatif tentang tanah air. 

“Imbalannya apa, bukan uang tapi kepuasan anda sendiri dalam memenuhi keinginan dan cita-cita anda, melakukan sesuatu bagi adik-adik anda yang sangat memerlukan uluran tangan. Semangat inilah yang dibutuhkan, bukan semangat mengejar harta tapi semangat menjadi calon pemimpin,” katanya. 

Wapres mengucapkan terimakasih kepada semangat Sekretariat Yayasan Indonesia Mengajar yang setelah tujuh tahun masih terus bekerja dengan penuh semangat. Demikian pula dengan para sponsor seperti Perusahaan Gas Nasional, Pertamina, Indosat dan Indika Energy yang mendanai kegiatan Indonesia Mengajar. Serta, para pemerintah daerah sebagai tuan rumah para Pengajar Muda. “Saya titipkan adik-adik ini ya, tolong diperhatikan keberadaan mereka baik-baik,” kata Wapres kepada BUpati Halmahera Selatan, Bupati Bengkalis dan Bupati Majene yang hadir saat itu. 

Sebagai penutup Wapres meminta agar para Pengajar Muda menjaga kesehatan dan menjaga komunikasi dengan jaringannya. Ia menegaskan kembali bahwa ia sangat bangga terhadap apa yang dilakukan para Pengajar Muda. “Saya tahu anda tidak mengharapkan pujian-pujian, yang anda inginkan adalah kepuasan anda sendiri sesuai target yang anda pikirkan. Tapi percayalah saya amat bangga terhadap apa yang anda lakukan,” kata Wapres.

Dalam kesempatan itu Direktur Eksekutif Indonesia Mengajar Hikmat Hardono mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya atas ketujuh kalinya kesediaan Wakil Presiden Boediono melepas para pengajar muda sejak angkatan pertama. Ke-52 pengajar muda angkatan ke-7 yang akan berangkat pada 21 Desember ini akan bertugas di 7 kabupaten di seluruh tanah air dan akan menjadi pengajar keempat yang bertugas di daerah itu. 

“Tugas formal mereka adalah menjadi guru, tapi mandat mereka yang utama adalah menggerakkan masyarakat,” kata Hikmat. Menurutnya tahun keempat ini adalah tahapan pengembangan dan pemantapan daerah dimana desa-desa diharapkan bisa tumbuh mandiri tanpa kehadiran Pengajar Muda. 

Hikmat mengatakan, kehadiran Indonesia Mengajar memberi dampak positif  ke daerah seperti perilaku aktif guru yang semakin membaik dengan kehadiran yang juga meningkat. Demikian pula dengan murid meningkat partisipasi dan kehadirannya. Di berbagai daerah, timbul pula inisiatif lokal seperti di Halmahera Selatan yang membuat gerakan desa cerdas dngan mengirim guru-guru Halmahera Selatan ke daerah-daerah yang lebih terpencil. 

Juga dalam sesi tanya jawab, seorang Pengajar Muda membacakan muridnya di Banggai, Sulawesi Tengah. Surat dari Asgar Saputra yang berusia 10 tahun itu berisi permintaan doa restu akan cita-citanya menjadi tentara agar dapat menjaga Indonesia. 

Wapres juga menjawab pertanyaan tentang motivatornya sewaktu kecil, yakni cerita-cerita wayang dan bagaimana mengatasi malas belajar. “Penting sekali bagi guru untuk membuat pelajarannya jadi menarik, penting untuk menguasai komunikasi dan sambung rasa dengan anak-anak,” kata Wapres.****


Keterangan Gambar : Wakil Presiden Boediono bersalaman dengan pendiri Indonesia Mengajar Anies Baswedan. (foto : Jeri Wongiyanto)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya