» » » Lagu "Malam Kudus" Dalam Sejarah, Kini Berusia 195 Tahun

Lagu "Malam Kudus" Dalam Sejarah, Kini Berusia 195 Tahun

Penulis By on Minggu, 22 Desember 2013 | No comments

JAKARTA - Lagu Silent Night yang kita kenal sebagai Malam Kudus adalah karya Pastor Josef Mohr (1792-1848) dan Franz Xaver Gruber (1787-1863). Laguini pertama kali diperdengarkan pada malamNatal 24 Desember 1818, di Gereja Santo Nicholas, di Oberndorf (Austria). Malam Natal 24 Desember 2013 ini, usia lagu itu akan persis 195 tahun.
Dengan usia 195 tahun, lagu ini menjadi lagu utama dalam semua perayaan Natal di dunia. Tak ada lagu Natal lain yang bisa mengungguli popularitas Malam Kudus.
Awal mula penciptaan, adalah kenyataan organ gereja yang masih rusak hingga 24 Desember 1818. Pastor Josef memutar otak, apa yang bisa disuguhkan kepada jemaat agar perayaan Natal tetap khusyuk (meski menyanyi tanpa diiringi organ)?
Koordinator pemain organ di Gereja Santo Nicholas, Franz Xaver Gruber, juga tak bisa berbuat apa-apa. Josef dan Franz Xaver Gruber harus menerima situasi, tak ada iringan organ pada malam suci.
Syahdan, muncullah ide brilian Mohr. Pada pagi hari 24 Desember 1818,
Pastor Mohr mendatangi Gruber, sembari membawa sebuah syair. Mohr
meminta Gruber membuat melodi/lagu untuk syair itu, supaya bisa dinyanyikan
pada malam Natal.

Itulah awal sejarah laguyang sangat mendunia, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Semua bahasa nasional di dunia ini, mempunyai terjemahan MalamKudus. Pun dalam hampir semua bahasa daerah di seantero jagat, singkatnya sangat mendunia.


Diciptakan 1818

Josef Mohr dilahirkan 11 Desember 1792 di Desa Oberndorf, Salzburg
(Austria), dari pasangan Joseph Franz Mohr dan Anna Schoiberin. Mohr kecil, menyukai musik. Dia mengikuti paduan suara Gereja Katedral Salzburg, di bawah asuhan Vicar Johann Nepomuk Hiernle.

Bakat musik Mohr kian terasah melalui bimbingan Vicar. Mohr juga murid
sekolah musik Kremsmunster Lyceum. Tahun 1811, Mohr memasuki Seminari
Salzburg, ditahbiskan menjadi pastor 21 Agustus 1815.

Menurut sejarawan yang mendalami histori Malam Kudus, Bill Egan dan Doug Anderson, lagu ini bermula dari penempatan/tugas pertama Mohr di Mariapfarr, sebuah wilayah di Provinsi Salzburg, Austria.
Sejumlah hasil studi mengatakan, keenam bait lagu Stille Nacht!

Heilige Nacht! (versi asli dalam bahasa Jerman yang kini dikenal

sebagai lagu MalamKudus Sunyi Senyap), sesungguhnya ditulis Mohr pada tahun 1816, ketika berkunjung ke Salzburg, yang juga daerah asal kakek Mohr.

Namun, fakta yang paling diyakini sekarang ini, digubah 24 Desember 1818. Fakta pendukung versi 24 Desember 1818, Mohr baru ditempatkan di Gereja Santo Nicholas pada musim panas Oktober 1817. Gereja ini, 11 mil dari Kota Salzburg. Di sinilah Mohr berjumpa dengan Franz Xaver Gruber, organis gereja yang kemudian bersama-sama menggubah Malam Kudus. Mohr menulis syair, Gruber membuat lagu/melodi.

 Gruber
Franz Xaver Gruber, lahir di kawasan miskin, Unterweizberg, dekat Hochburg, Austria, 25 November 1787. Sama seperti Mohr, Gruber juga menyukai musik. Tahun 1805-1806, Gruber secara khusus mempelajari alat musik violin. Gruber juga mahir memainkan organ, di bawah asuhan George Hartdobler, organis kenamaan di Kota Burghausen.
Dengan bakat musik yang demikian tinggi, sepanjang tahun 1807-1829, Gruber menjadi guru musik, sembari koordinator organis di Gereja Santo Nicholas, di mana Mohr bertugas sebagai Pastor sejak tahun 1817.
Sebagai laguyang sangat memukau, Malam Kudus segera menyebar ke seantero dunia. Diperdengarkan pertama kali 24 Desember 1818, pada Natal selanjutnya sudah menyebar hampir ke seluruh gereja di Jerman/Austria.
Menengahti polemik sekitar tahun penciptaan syair lagu, pada tanggal  30 Desember 1854, Gruber menulis kesaksian, 24 Desember 1818), pastor yang baru ditempatkan di Gereja Santo Nicholas, Joseph Mohr, menyerahkan sebuah syair. 
Mohr minta tolong dibuatkan melodi atas syair tersebut dengan iringan gitar, dengan penyanyi duet, diiringi paduan suara. Mohr meminta dengan iringan gitar, sebab waktu itu organ gereja sedang rusak.
Tentu saja, dengan bimbingan "Sang Kalik," Gruber bisa langsung membuatkan melodi yang sesuai dengan napas syair. Di malamNatal itu, lagu dinyanyikan berdua. Mohr dengan suara tenor, Gruber dengan suara bas. Refrein, dinyanyikan paduan suara gereja. Musik, hanya dengan iringan gitar oleh Mohr sendiri.
Persis dua tahun setelah bertugas di Oberndorf, Oktober 1819 Mohr dipindahkan ke Kuchl. Tahun 1921, ditemukan manu- skrip MalamKudus. Tahun 1995, manuskrip diuji dengan teknologi tinggi. Hasilnya, memang karya Mohr-Gruber. Hingga kini, manuskrip itulah yang dianggap sebagai dokumen Malam Kudus yang paling otentik.


Ciptaan Mohr-Gruber

Ihwal organ yang rusak di Gereja Santa Nicholas, diperbaiki Karl Mauracher. Ada juga yang mengatakan, bukan diperbaiki, tetapi tahun 1821 Karl Mauracher memasang organ baru di sana.
Entah bagaimana, Karl Mauracherkemudian mempunyai kopian naskah lagu Malam Kudus. Tak lama kemudian, tahun 1822, ditemukan juga kopian yang berada di tangan Johann Baptist Weindl, pimpinan paduan suara Gereja Katedral Salzburg.
Kleim Karl Mauracher membuat lagu ini kian dikenal. Awalnya, Mauracher memberikan lagu ini kepada dua tetangganya di Ziller, yang
kebetulan penyanyi yang cukup punya nama. Kedua tetangga Mauracher
ini, selalu menyanyikan Malam Kudus dalam setiap undangan nyanyi di
seantero Eropa. Dalam perjalanan kemudian, melodi MalamKudus sedikit "bergeser."

Dalam sebuah buku lagugereja dengan tahun penerbitan 22 Juli 1819, laguini ditemukan juga, ditulis sebagai karya Blasius Wimmer, organis dan guru musik di Waidring (Tirol). Tahun 1839, laguini dibawa ke Amerika Serikat, dinyanyikan di Monumen Alexander Hamilton di New York, di dekat Gereja Trinitas. 
Bahkan ketika Mohr meninggal 4 Desember 1848, belum banyak publik yang mengetahui bahwa penggubah laguMalam Kudusadalah Mohr-Gruber. Beberapa tahun kemudian, kalangan musik ternganga, ternyata Mohr telah menyerahkan hak penciptaan Malam Kudus kepada Andreas Winkler.
Banyak dinyanyikan dan banyak yang mengklaim sebagai penggubah lagu Malam Kudus, tahun 1854, kantor pusat Gereja Katolik untuk Jerman di Berlin dan tim dari Gereja Santo Piter di Salzburg, meneliti lagu ini, siapa pencipta sesungguhnya. Atas desakan tim peneliti, tahun 1854 itu juga, Franz Gruber membuat pernyataan bahwa dialah yang membuat melodi, Mohr membuat lirik.
Menurut penelitian Doug Anderson, versi bahasa Inggris pertama lagu ini adalah tahun 1849, dimuat dalam buku nyanyian Gereja Metodis
Amerika Serikat. Dalam edisi buku nyanyian tahun 1905, Gereja Metodis
Amerika mengedit terjemahan.

Kini, Malam Kudus sudah diterjemahkan ke ribuan bahasa. Terjemahan ke Indonesia, lagu ini pertama kali dibawa misionaris Jerman. Terjemahan dalam bahasa daerah Batak Toba, besar kemungkinan tahun 1861, dengan judul Sonang di Borgin Nai.  
Sayang Seribu Sayang
Pertama kali, saya menulis sejarah lagu dahsyat ini Desember 2008, untuk Suara Pembaruan. Waktu itu saya jadi sedih sendiri, sebab lokasi penciptaan lagu, dari bahan-bahan yang saya pelajari, ternyata lokasi penciptaan lagu ini (Obendorf) hanya 11 km dari Salzburg.
Kenapa sedih, tahun 1998 dan 1999 saya Salzburg. Kalau saja tahu lokasi peciptaan lagu itu hanya 11 km dari Salzburg, saya sudah pasti ke gereja itu.
Sedikit ngawur, semasih wartawan Suara Pembaruan, setiap kali meliput Dialog Timor Timur yang diadakan PBB di Burgslaining (2 jam dari Wina), rute pavorit saya adalah lewat Paris dengan pesawat kecil ke Salzburg. Menginap satu malam, besoknya lanjut dengan kereta api ke Wina (3 jam).
Kenapa lewat Salzbur? Karena kota kecil inilah kelahiran Mozart. Di rumah kelahiran Mozart, setiap hari ada “paket makan malam” yang sekaligus sebagai pementasan orkestra dengan lagu-lagu ciptaan Mozart. Meski tak punya apa-apa, mendengar lagu Mozart di rumah kelahirannya, serasa menjadi raja kapal.
Pertemuan Timor Timur yang pertama, 1998, tanpa sengaja saya bertemu dengan Atika Suri (wartawan RCTI), di Paris. Saya menggoda Atika Suri dan camera man supaya lewat Salzburg saja, jangan penerbangan langsung ke Wina. Belakangan saya dengar, Redaksi RCTI di Jakarta, heran, rute perjalanan koq jadi panjang.
Kalau saya sendiri, sejak dari Jakarta memang sudah “merencanakan kebohongan.” Kepada atasan saya, Atmadji Sumarkidjo (kemudian menjadi Wapemred RCTI), lokasi Dialog PBB adalah di Salzburg (padahal memang di Burgslaining, hanya supaya saya bisa mengunjungi rumah Mozart).
Ketika saya telepon ke Jakarta, dengan mengaku kesasar koq jadi sampai ke Salzbur, Atmadji tertawa. “Apa kau pikir waktu teken SPJ, saya tak tahu Dialog PBB sebetulnya di Burgslaining? Tapi saya diamkan, karena saya yakin, kau akan banyak bonus tulisan dari Salzburg,” kata Atmadji.
Saya balas dengan tertawa pula, sebab orang satu ini memang sulit ditipu. “Siap Mas, di sini kan lokasi shooting film Sound of Music, nanti saya tulis juga,” kataku sembari tertawa.
Kalau saja tahu hanya 11 km dari Salzburg, naluri kewartawanan akan memaksa mampir ke sana. Sayang sekali bukan? Sayang seribu sayang.****

Ø  Penulis:  Sihol Manullang, Pemimpin Redaksi baranews.co
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya