Oleh : Ustadz H.Uti Konsen U.M.
Memilih Teman Bergaul
Sejak dini Rasulullah saw berpesan “Jauhilah olehmu teman yang buruk. Karena sesungguhnya engkau akan dikenal dengan keburukannya“ (HR.Ibnu Azakir). Karena itu hindarilah teman yang buruk, laksana kamu menghindar dari macan. Teman yang buruk itu laksana penyakit menular yang menggiringmu ke neraka Jahannam. Ia melemparkanmu ke sana. Dan, ia akan menjadi musuh bagimu di hadapan Allah SWT. SimaFirman-Nya “Teman – teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang – orang yang bertakwa “(Az-Zukhruf (43) : 67). “ Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata. ‘Aduhai, kiranya ( dulu ) aku mengambil jalan bersama –sama Rasul. Kecelakaan bersalah bagiku.Kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya, dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an, ketika al Qur’an, itu telah datang kepadaku.’ Dan, adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al Furqan (25) : 27-29).
Salah satu sumber rezeki yang dianugerahkan Allah swt kepada kita ialah teman yang baik. Rasulullah saw bersabda “Perumpamaan teman yang baik (saleh) dan teman yang buruk bagaikan pembawa minyak wangi dengan peniup api. Pembawa minyak wangi ada kalanya dia memberimu atau engkau membeli darinya atau paling tidak engkau mendapatkan bau yang harum darinya. Sedangkan peniup api (biasanya pada tukang pandai besi), ia bisa membakar pakaianmu atau paling tidak engkau akan mendapatkan bau (pembakaran) yang busuk darinya“ (HR.Bukhari dan Muslim).
Teman yang baik (saleh) akan membawa pengaruh kepada diri dan keluarga kita.Nabi saw bersabda “Seseorang akan terpengaruh agama temannya. Oleh karena itu , hendaklah salah seorang di antara kamu memperhatikan siapa temannya“ (HR.Tirmidzi). Teman yang baik tidak mendekati hanya saat sukses atau menjauh ketika jatuh. Ia juga tidak mengajak kepada yang buruk, namun mengajak pada kebaikan, saling memberi, berkirim salam dan mengingatkan akan kebaikan. Teman yang baik akan membuat kita merasa aman dengannya terhadap diri ( fisik dan non fisik ), harta dan keluarga kita.Teman yang baik adalah teman yang selalu hadir jika dibutuhkan ( friends that you can rely / call on ).Kapan saja kita meminta bantuan kepadanya ia selalu menyambutnya.
Salah satu contoh, teman yang baik mendatangkan rezeki yang berkah.Seorang eksekutif perusahaan dalam negeri sedang “ditawar” oleh perusahaan raksasa dari Amerika Serikat .Pimpinan perusahaan itu langsung on the spot ke Jakarta.Maksudnya untuk mewawancarai eksekutif lokal tersebut. Namun sebelum acara wawancara tersebut, sang Eksekutif lokal tersebut menilpon untuk meminta izin membawa temannya sebagai teman ngobrol ketika makan bersama di restoran. Tamu dari Amerika itu setuju. Lalu siapa yang diajak oleh eksekutif lokal tersebut ?. Dua orang temannya, yaitu yang pertama mantan gubernur DKI yang menjadi anggota MPR. Yang kedua adalah calon duta besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Pendek cerita, obrolan sambil makan siang di restoran itu berlangsung dengan lancar dan asyik.Tamu tersebut tampak gembira dengan berbagai keterangan yang disampaikan oleh orang-orang penting kawan eksekutif tersebut. Tanpa terasa satu jam berlalu dan kawan–kawan tadi mohon pamit untuk kembali bekerja. Kemudian kawan-kawan eksekutif lokal tadi berkata pada tamunya, “Bagaimana, Sir ?.”. Orang itu menjawab, “Oke. Anda diterima.Selamat bergabung”. Sang eksekutif malah kaget, “Lho, Anda belum mewawancarai saya, khan?“. “Well“, kata sang tamu. “Orang yang mempunyai teman seperti itu tentu bukan orang sembarangan. Anda saya pikir memang bukan orang sembarangan“, ujarnya sambil melepas jabatan tangannya. Saat itu sang tamu langsung menuju bandara dan balik ke negerinya. Subhanallah (Buku Daun Berserekan oleh Palgunadi T. Setyawan)
Seorang mukmin senaantiasa memberikan manfaat kepada temannya di dunia dan akhirat. Di dunia, ia berkeinginan kuat untuk memberikan manfaat agama dan dunia kepada para saudaranya, dan bertekad kuat untuk menyingkirkan semua mudharat dari saudaranya.
Wallahu’alam
Kawan Yang Abadi
Ali bin Abi Thalaib ra meriwayatkan, singkatnya : “Begitu seorang wafat, ketika jenazahnya masih terbujur, diadakanlah ‘ upacara perpisahan ‘ di alam ruh. Pertama, ruh mayit dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayat itu berkata kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu, sehingga aku lalai dan lupa untuk mengabdi kepada Allah, bahkan sampai aku tidak mau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalm perjalananku ini ?“. Harta kekayaan itu pun berkata, “Ambillah dariku hanya untuk kaih kafanmu.” (Jadi hanya kain kafanlah harta yang dapat dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya).
Sesudah itu si mayit dihadapkan kepada seluruh keluarganya (anak-anaknya, suami atau isterinya), lalu si mayit berkata, “Dahulu aku mencintai kalian, menjaga dan merawat kalian dengan sepenuh hatiku. Begitu susah payah aku mengurus diri kalian, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang kalian mau bekalkan kepadaku pada perjalanan menuju Allah ini ?”. Keluarganya menjawab “Kami antarkan kamu sampai ke kuburan”
Setelah itu si mayit akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau selama hidupnya ia banyak beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makhluk yang berwajah ceria dengan memancarkan cahaya dan aroma semerbak, yang jika dipandang akan menimbulkan kenikmatan yang tiada taranya. Sebaliknya, bila waktu hidup senang membangkang pada perintah Allah dan Rasul-Nya maka si mayit akan di jemput oleh makhluk yang menakutkan, dengan bau yang teramat busuk. Makhluk jelmaan itu lalu mengajak si mayit pergi. Bertanyalah si mayit, “Siapakah Anda ini sebenarnya ?. Saya tidak kenal dengan Anda “.Akulah jelmaan amal kamu sewaktu hidup. Dan aku akan selalu menemanimu dalam menempuh perjalanan panjang menuju Ilahi”
Alangkah bahagianya bila “ teman“ ini menyenangkan, dan alangkah malangnya bila perjalanan jauh yang seolah – olah tak berujung ini, ditemani ” teman“ yang selalu membuat kita sengsara. Terhadap yang terakhir ini , mereka akan teramat sangat menyesal seperti ditegaskan Allah swt dalam surah Al Mu’minun (23) : 99 – 100) “Hingga apabila datang kematian kepada salah seseorang dari mereka dia berkata :‘Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku beramal saleh pada apa yang telah aku tinggalkan. Sekali – kali tidak !. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja, sedang di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” Dalam surah Ghafir ( 40 ) : 46 Allah swt berfirman “Kepada mereka dinampakkan neraka, pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat . . . . .“.
Ketika Rasul saw berkunjung ke rumah salah seorang sahabatnya yang baru wafat, si isterinya bertanya kepada Rasulullah makna dari perkataan suaminya menjelang wafatnya, yaitu pertama “Andaikan lebih jauh , andaikan yang baru dan andaikan semuanya“. Rasulullah saw tersenyum mendengarnya lalu menjelaskan makna ucapan almarhum suaminya “Suamimu tidak sedang mengigau karena sakaratul mau. Ketika itu, suamimu melihat pahala amalan selama hidupnya.” Amalan tersebut, jelas Rasulullah, terjadi ketika sahabatnya itu pergi ke masjid. Di perjalanan, ia bertemu dengan orang buta yang sama –sama hendak ke masjid, lalu ia menuntunnya. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. Andaikan jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang.Suatu hari sahabat itu juga hendak pergi ke masjid untuk salat subuh. Di perjalanan, ia bertemu dengan orang yang sedang kedinginan. Lalu ia memberikan satu dari dua mantel yang ia pakai.Dan, yang ia berikan itu bukan yang baru. Karena mantel yang baru ia sendiri yang pakai. Maka di akhir hayatnya ia menyesal. Andaikan yang ia berikan itu mantel yang baru, pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang. Kemudian suatu hari engkau menyiapkan makanan untuk suamimu. Ketika makanan itu hendak dimakannya, tiba – tiba ada pengemis. Lalu, suaminya memberikan separuh dari makanan itu. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. Andaikan yang ia berikan itu semuanya, pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang“.Wallahualam.****(Sumber : sulingketapang.blogspot.com)

