» » » Pers Bisa Sangat Kritis dan Sangat 'Minir', Tapi Ada Juga Baiknya

Pers Bisa Sangat Kritis dan Sangat 'Minir', Tapi Ada Juga Baiknya

Penulis By on Jumat, 01 Agustus 2014 | No comments

Oleh : Dr.H.Susilo Bambang Yudhoyono

Sebenarnya saya sudah amat mengerti bahwa pers itu memang kritis kepada kekuasaan. Bagi pers, good news is no news. Seringkali, jika ada komentar yang kritis dan pedas terhadap Presiden atau Pemerintah, komentar itu mendapatkan tempat yang "terhormat", dan sering dijadikan headline. Beritanya bisa bertahan berhari-hari. Namun, ketika pemerintah menyampaikan penjelasan atas kritik dan kecaman itu, ruang yang diberikan biasanya relatif kecil. Bahkan, sering pula tidak dimuat. Sebagaimana yang telah saya sampaikan di bagian lain dari buku ini, hal demikian tampaknya telah menjadi hukum dan doktrin pers. Hukum dan doktrin yang umumnya berlaku di negara-negara demokrasi.

Perilaku pers dan media massa seperti yang saya sampaikan tadi tentu tidak berlaku bagi semua. Banyak pers dan media massa yang menjunjung tinggi prinsip pemberitaan yang fair and balanced. Juga prinsip truth and accuracy. Artinya, disamping banyak yang menjunjung berita yang jujur dan berimbang, juga tidak sedikit yang mengutamakan fakta dan kebenaran serta berita-berita yang akurat.

Namun, seperti apa pun sikap pers terhadap saya, saya sudah siap menghadapi hal-hal demikian. Oleh karenanya, apa yang ingin saya sampaikan ini tentulah bukan sebuah surprise atau keluhan saya tetapi, barangkali ada gunanya bagi teman-teman yang suatu mendapatkan tugas seperti saya. Maksud saya, jika mengalami hal-hal demikian tidak perlu harus terperanjat. Tidak perlu pula stres.

Perlakuan pers seperti itu boleh dikata akan berlaku sepanjang seseorang menjabat sebagai presiden. Saya pribadi merasakannya. Bahkan, ketika buku ini tengah saya persiapkan, saya masih terus menjumpai pemberitaan pers yang minir. Ada sejumlah contoh untuk itu.

Pada Sidang Kabinet Paripurna tanggal 27 Desember 2012, saya mengatakan kepada para menteri bahwa dua tahun mendatang saya akan kembali sering berkunjung ke daerah, sebagaimana yang saya lakukan pada dua tahun pertama masa kepresidenan saya dulu. Cuma ada bedanya. Dulu saya sering turun ke lapangan untuk bertemu masyarakat agar saya lebih mengenali masalah yang dihadapi rakyat kita, sehingga kebijakan dan program aksi yang dilaksanakan oleh pemerintah menjadi tepat. Kini, jika saya kembali turun ke lapangan, tujuan saya adalah untuk memastikan apakah semua kebijakan dan program untuk rakyat sungguh dijalankan dengan baik, termasuk sejauh mana hasil yang dicapai. Dalam pikiran saya, jika masih ada yang harus dikoreksi dan diperbaiki, masih ada waktu sekitar dua tahun. Di hadapan Sidang Paripurna itu saya juga menyampaikan bahwa yang akan saya kunjungi terutama adalah komunitas yang rentan secara sosial dan ekonomi.

Delapan hari kemudian, 4 Januari 2013, saya melakukan kunjungan mendadak di sebuah perkampungan nelayan di Tanjung Pasir, Tangerang. Para menteri terkait yang mendampingi saya dan pers sengaja tidak diberi tahu agar tidak ada kebocoran berita, sehingga saya bisa melihat keadaan yang senyata-nyatanya. Apa adanya. Bupati Tangerang pun kita beri tahu setengah jam sebelum saya sampai di tempat itu. 

Dalam kunjungan itu saya mendapatkan banyak hal, antara lain program pemberdayaan nelayan belum terlaksana secara optimal, sejumlah prasarana yang masih perlu ditingkatkan, sosialisasi Kredit Usaha Rakyat yang belum meluas, kebersihan di kampung tersebut yang sangat kurang, dan hal-hal lain yang saya temukan. Dengan demikian, sebagaimana yang saya sampaikan di lokasi itu, saya ingin program pemerintah di masa mendatang, baik pemerintah pusat maupun daerah, bisa mengatasi keadaan seperti ini. Yang saya maksudkan tentu program di seluruh tanah air. Bukan hanya yang ada di Tangerang semata. 

Kunjungan mendadak dan berdialog dengan masyarakat seperti ini tentu sudah saya lakukan ratusan kali sejak saya menjadi Presiden sembilan tahun sebelumnya. Adalah menjadi tugas saya untuk datang dan berkunjung ke seluruh pelosok tanah air, untuk bertemu dengan rakyat, apakah itu masyarakat petani, nelayan, buruh, guru, pesantren dan lembaga agama lainnya, petugas kesehatan, masyarakat di daerah terpencil, TNI dan Polri, dan puluhan komunitas yang lain. Tentu saja, hampir pasti saya mendatangi masyarakat yang sedang mengalami musibah bencana. Jadi, kunjungan saya ke perkampungan nelayan di Tangerang itu bukan hal yang baru bagi saya.

Kembali ke topik yang sedang saya angkat dalam buku ini bahwa pers bisa sangat kritis dan minir, setelah kunjungan saya ke Tanjung Pasir itu para pembantu saya sempat "sewot", karena dalam pemberitaan media massa ibu kota, apa yang saya lakukan itu ditanggapi secara sinis dan minir. Bahkan, judulnya pun kurang lebih "SBY tiru Jokowi". Mendengar laporan staf dan para pembantu saya itu saya hanya tersenyum. Kemudian saya berusaha menenangkan hati mereka dengan mengatakan demikian:

"Kita kan sudah tahu, bahwa selama ini pers kritis terhadap saya. Apa pun yang kita lakukan hampir selalu diambil dari sudut membuat yang kita tidak nyaman. Coba saya mau bertanya, sebelum Pak Jokowi jadi Gubernur, pernah tidak saya melakukan kegiatan seperti ini?"

"Sering Pak. Ratusan kali," jawab mereka secara serentak dengan nada yang emosional.

"Ya sudah. Berarti ingatan Anda lebih baik dibandingkan pers dan media yang memberikan komentar seperti itu."

Kemudian saya lanjutkan kembali.

"Saya harus mengatakan berulang-ulang bahwa disamping banyak paradoks, di negeri ini juga selalu ada pandangan yang dari sudut manapun sepertinya kita keliru. Ketika saya berkunjung ke daerah dan bertemu dengan rakyat kita, saya dikritik hanya melakukan pencitraan. Ketika beberapa saat saya tidak bertemu rakyat, saya dikritik sebagai elitis dan tidak suka bertemu rakyat. Benar tidak?"

Mereka kembali mengangguk secara serentak.

"Begini saja. Kalau ada yang bertanya apakah betul SBY meniru Pak Jokowi, jawab saja benar. Katakan bahwa tidak ada larangan untuk saya mencontoh sesuatu yang baik," demikian tambahan perkataan saya.

"Ah, itu tidak fair Pak," mereka masih sulit untuk menerimanya.

Dulu, di tahun-tahun pertama kepresidenan saya, beberapa kali saya bertemu dan berbincang-bincang dengan para sahabat saya ~ apakah ia Presiden atau Perdana Menteri. Ketika kami sama-sama membicarakan betapa tidak mudahnya menjalin hubungan dengan pers dan media massa, salah satu dari mereka memberi resep bagaimana menghadapi pers yang amat sinis dan minir. Nasihatnya sederhana, tapi logis. Pertama, katanya, kalau masih bisa kendalikan emosi Anda dengan logika. Kedua, kalau memang amat berat, ya Anda harus tebang pilih. Pilihlah media massa yang tidak keterlaluan. Nah, kalau sudah luar biasa peperangan antara Anda dengan media massa, anjurannya adalah "don't read, don't watch". Jangan membaca koran dan majalah, jangan menonton televisi.

Guna melengkapi apa yang disampaikan oleh para sahabat saya tersebut, ada yang patut saya sampaikan berkaitan dengan kritik ini. Saya yakin jika Anda mendengar kata-kata bijak ini hati Anda akan lebih tenang. Anda bisa lebih bersemangat dan tegar menghadapi tantangan apa pun.

Elberd Hubbard mengatakan sebagai berikut. "To escape criticism ~ say nothing, do nothing, be nothing". Artinya, jika Anda ingin menghindari kritik ya tidak usah bicara, apa pun. Tidak usah berbuat sesuatu, apa pun. Juga tidak perlu menjadi siapa. Terhadap kata-kata bijak ini saya berpikir hanya orang matilah yang tidak pernah berbicara, tidak pernah berbuat, dan tidak menjadi siapa pun dalam kehidupannya. Jadi kalau Anda sering dikritik, berarti Anda masih hidup.

Masih sekitar betapa kalangan pers sering bersikap dan bertindak berlebihan terhadap saya itu, menarik apa yang disampaikan oleh seorang sahabat saya ~ seorang tokoh pengusaha yang juga mengerti politik, ekonomi dan dunia media massa. Dalam rangkaian acara peringatan Hari Pers Nasional di Manado Februari 2013, ia menyampaikan kepada sejumlah pemimpin redaksi dan wartawan senior, yang sahabat saya itu memiliki hubungan baik dengan mereka semua.

"Kalian terlalu dalam memperlakukan Presiden kita. Mau cari pemimpin seperti apa. Dia bekerja penuh untuk menjalankan pemerintahan. Hasilnya juga ada. Ekonomi kita tumbuh. Dia menghormati dan menjalankan demokrasi. Juga menghormati HAM. Termasuk kemerdekaan pers. Jujur dan tidak berbisnis untuk memperkaya dirinya. Jangan terlalulah. Tidak baik," demikian ucapnya.

Lagi pula apa yang dirasakan dan dipikiran oleh Dr. Daniel Sparringa, Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik. Disamping sebagai pencinta demokrasi, publik mengetahui ia juga pejuang kemerdekaan yang gigih. Di era awal reformasi dulu kami sering tampil dalam forum publik untuk menggelorakan perubahan dari sistem otoritarian ke demokrasi. Mengikuti perkembangan dan dinamika kehidupan pers saat ini, Dr. Daniel sering menghela nafas dalam-dalam karena pemberitaan sebagian pers kita memang sering keterlaluan. 

Namun, saya pikir-pikir sikap pers yang kritis dan banyak minir-nya terhadap saya itu ada pula kebaikannya. Ada pula manfaatnya. Paling tidak saya akan selalu menjaga diri baik-baik. Jangan sampai berbuat salah. Jangan sampai menyalahgunakan kekuasaan yang saya miliki. Belum tentu salah saja nggebuki-nya sudah tidak ketulungan. Apalagi jika ada kekeliruan saya dalam mengambil keputusan, kebijakan, dan tindakan.

Sebaliknya kalau pers dan media bersikap manis terhadap saya, dan saya selalu menjadi "media darling", barangkali malah buruk bagi saya. Saya bisa terlena dan mudah menepuk dada bahwa sayalah pemimpin yang baik dan populer. Sekian tahun saya dibegitukan oleh pers, bisa-bisa saya tersanjung dan akan mengatakan everything is fine. Tiba-tiba, ketika terjadi pergantian kehendak politik rakyat secara dramatis, seperti jebolnya bendungan air raksasa, saya bisa tumbang. Jatuh dan terungkal, karena tidak biasa menerima kritik dan perlawanan. Begitulah pelajaran yang saya petik di kehidupan politik. Sejarah banyak mengisahkan bahwa banyak pemimpin yang tadinya sangat kuat dan sangat berkuasa akhirnya harus meninggalkan kekuasaannya secara tragis, karena selama ia berkuasa tidak ada yang berani mengkritik atau menentangnya.

Jadi, kalau saya berpikir positif dan harus mengambil hikmah dari perlakuan pers yang sering menyakitkan itu, ternyata ada juga kebaikannya terhadap diri saya pribadi. Terima kasih pers atas "kasih sayangnya" itu.

Sementara itu, teman-teman saya, bukan menteri dan juga bukan staf, pernah berbincang-bincang santai dengan saya. Pembicaraan itu, seperti biasanya, bersifat ringan dan tidak ada agenda yang formal. Dari urusan olah raga, kuliner, lagu-lagu yang sedang hits hingga urusan cucu. Tiba-tiba ada yang mengangkat isu pers dan media massa yang mereka nilai amat keterlaluan terhadap saya dan pemerintah. 

"Saya benar-benar salut, Pak SBY bisa sesabar itu. Kalau saya sudah tidak kuat. Lebih baik berantem saya," ujarnya.

"Kenapa Pak ya, pers dan media massa kita jadi begitu. Saya ini sering ke luar negeri. Di Amerika dan Eropa yang dianggap nenek moyangnya demokrasi, persnya tidak sekejam pers Indonesia. Kalau negara-negara di Asia saya tahu tangan-tangan pemerintah untuk mengontrol pers masih sering kita lihat. Kalau di negara-negara Barat kan tidak. Tetapi, tetap ada batas-batasnya" sambung yang lain.

Sebenarnya saya kurang tertarik untuk menjawab yang begitu-begitu. Karena saya sudah bisa melampaui keras dan "hostile-nya" dunia pers kita. Tetapi, daripada teman-teman saya itu menjadi penasaran saya berikan saja jawaban saya.

"Insya Allah, di akhir masa bakti saya sebagai Presiden Indonesia keenam nanti, justru saya bisa bersyukur kepada Allah, bahwa meskipun saya tidak habis-habisnya diserang oleh pers dan para pengamat, saya masih bisa bekerja. Artinya saya tidak rontok dan terjungkal." 

Mendengar itu teman-teman saya tampak terdiam. Malah jadi serius. Kemudian saya teruskan kata-kata saya.

"Satu hal lagi. Saya yakin anak-cucu saya juga akan bangga, karena ayah dan kakeknya masih bisa bekerja dan masih bisa menjalankan amanah rakyat, padahal pers dan kalangan politik tertentu dengan sengitnya terus-menerus menyerang saya." ***

Dikutip dari: Susilo Bambang Yudhoyono, 2014, Selalu Ada Pilihan, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, halaman 228 - 233.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya